--- AHLAN WA SAHLAN, SELAMAT DATANG DI NIKAH.COM, KAMI HADIR SEBAGAI SAJIAN UNTUKMU YANG AKAN MENIKAH DAN TELAH MENIKAH, SERBA-SERBI DALAM KELUARGA DAN ANAK-ANAK ---
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taushiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, Februari 20, 2011

Ketika "Recehan" Begitu Berharga


oleh : Nur Afif En., S.Pd.T.

nikah.com;
Coba perhatikan bagaimana anak-anak saat makan! Adakah pertanyaan di dalam benak kita, mengapa mereka makan hingga berantakan? Tentu jawaban yang paling mendekati benar (atau memang itulah jawabannya) adalah : karena mereka sedang belajar. Lalu apa halnya jika yang makan adalah orang dewasa dengan akal yang sehat di dalam kepalanya. Tentu jawaban yang mungkin menyatakan bahwa orang tersebut “jorok”. Bagaimana lagi jika makanan yang seharusnya habis kemudian “disisakan”. Bagi orang “kaya” mungkin bukan suatu masalah besar, namun untuk orang miskin dengan kondisi serba kurang tentu akan menjadi masalah besar. Mubazir orang yang menyisakan makanan kemudian dibuang begitu saja.


Coba sejenak kita renungkan, manakala kita hari ini makan, dengan kondisi berlebihan yang pada akhirnya menyisakan makanan yang seharusnya dapat dimakan oleh orang yang lebih membutuhkan. Kemudian tiba-tiba kita berada di tengah-tengah kondisi dimana tidak ada makanan sama sekali. Apakah kita tidak memikirkan makanan yang tersisa kemarin, yang kemudian terbuang begitu saja, “andai saja kemarin aku tidak menyia-nyiakan makanan, mungkin...?”.

Ini hanya sebuah contoh dari kehidupan kita mungkin disekitar kita. Contoh tersebut kadang-kadang nyata kita alami, atau orang lain yang mengalami sementara kita melihatnya begitu saja. Contoh kecil ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita yang mau berfikir.

Di saat kita “kaya”, dengan isi dompet yang luar biasa banyak, berlapis-lapis, berwarna-warni. Kita mencabutnya satu lembar warna merah dengan gambar Proklamator. Kita gunakan untuk membayar suatu barang atau jasa, dan kebetulan tersisa dengan beberapa lembar uang kertas yang kumal dan beberapa koin. Pernahkan kita memikirkan koin yang ada di genggaman kita, di dalam kantong kita? Mungkin tidak. Uang koin atau “recehan” mungkin akan terlantar, ada di atas bupet, ada di dalam laci, ada di atas kusen, ada di sela-sela baju, ada di dasar kolam, ada di kotak sabun kamar mandi, yang jelas tidak di dalam otak kita.

Suatu ketika ada pengemis, gelandangan, tukang minta-minta menyodorkan tangan berharap kita untuk dapat berbagi dengannya. Kadang tanpa berpikir panjang dari mulut kita terlepas empat kata, “maaf gak ada recehan”. Mengapa? Bukankah begitu banyak recehan yang kita telantarkan, hanya gara-gara nilainya yang kecil? Sementara lidah kita mengingkarinya dengan rangkaian kata memelas, “maaf gak ada recehan”.

Hingga suatu saat kita mengalami masa yang sulit, lembaran yang warna-warni yang biasanya menghuni dompet kita, kini tidak lagi terlihat. Hanya seberkas surat-surat yang mungkin kita anggap penting yang masih bertahan, betah menghuni dompet kita. Hingga suatu saat brangkas di rumah kita mulai nyaring bunyinya. Hingga suatu saat kita membutuhkan kopi dan gula sebagai teman duduk. Hingga suatu saat anak-anak minta dibelikan kue di warung sebelah. Hingga suatu saat kita menginginkan “kerupuk” untuk lauk makan kita sebagai teman dari sambal dan sepotong sayur mentah diantaranya. Hingga suatu saat kita mulai mencari recehan yang tadinya kita mengatakan “maaf gak ada recehan”.

Kita kemudian melakukan searching di dalam otak kita, “dimana lagi recehan yang kemarin berada?” -sambil menggaruk kepala tanpa rasa gatal-. Ketemu, kemudian kita mengumpulkannya. Sejenak kemudian kita pergi ke warung manakala nilainya kita anggap cukup untuk membeli “kerupuk”, lebihnya buat beli kue untuk anak-anak. Masalah kopi nanti saja, “kerupuk” lebih penting, kue untuk anak juga lebih penting.

Ini sebuah kenyataan yang juga sering terjadi pada kita, selain contoh di atas. Lalu, pernahkan kita memikirkannya lebih dalam lagi? Seharusnya “ya”.

Coba kita fikirkan dengan yang namanya “MASA”, waktu. Andai waktu nasibnya seperti recehan, mungkin kita tidak akan menyesalinya. Artinya, ketika sedikit waktu yang pernah kita sia-siakan kemudian dapat kita kumpulkan lagi untuk diakumulasikan menjadi waktu yang lebih berharga sehingga kita dapat memanfaatkannya lagi. Tapi rupanya “sang waktu” tidak mau disamakan dengan recehan di atas.

Sang waktu akan pergi begitu saja, ketika sang empunya menyia-nyiakannya. Dia akan pergi meninggalkan kita begitu saja, tidak pernah kemudian memanggil kita untuk menunggu. Sementara kita tidak menghiraukan, sang waktu makin tidak terlihat dan kandang terlupakan di belakang kita.

Ada sebuah rangkaian pertanyaan yang mungkin pernah ditanyakan oleh orang bijak, guru ngaji, orang tua, guru sekolah atau siapa saja. Pertanyaannya adalah:

"Apa yang selalu engkau dekati selama hidup di dunia ini? Lalu, apa yang selalu engkau jauhi selama hidup di dunia ini?"

Yang selalu kita dekati selama ini adalah "MAUT", tiap langkah, tiap detik kita berjalan, maka tidak ada tujuan lain selain mendekati maut. Yang selalu kita jauhi selama ini adalah "WAKTU", tiap detik yang pernah kita tinggalkan maka semakin jauh dia ada di belakang kita, tidak akan pernah kita menemuinya lagi.

Andai saja kita tidak menyia-nyiakan WAKTU...?
lebih lanjut...

Sluku-sluku Bathok

Berdendanglah anak-anakku...
bergembiralah dan senandungkanlah lagu dolanan ini
tugas kalian hanya bersenang dan hapalkan saja syair-syairnya
tugas kami memberi kesenangan dan memberi nilai
yang kelak kalian kan mengerti

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Oleh-olehe payung mutho
Mak jenthit lolo lo bah
Yen obah medeni bocah
Yen urip golekko dhuwit


Sedikit yang akan Bapak sampaikan Nak
Lagu sederhana ini karya para wali jaman dulu
Yang begitu luas pemahamannya tentang agama
Yang begitu dalam ungkapan jiwa seninya
Yang begitu peduli pada pendidikan anak negri
Yang begitu bersemangat sebarkan kebajikan

Begini makna yang terkandung di dalam lagu yang kalian nyanyikan itu Nak
Namun perlu kalian ingat bahwa ini hanya pemahaman Bapakmu yang masih dangkal
Kalian suatu saat kelak harus lebih baik lagi memahami ini

Sluku-sluku bathok

Bathok, kepala atau pikiran kita harus dibuat nyaman
Kita persiapkan untuk menerima sebanyak-banyaknya ilmu Allah yang bertebaran di muka bumi dan harus kalian cari

Bathoke ela-elo

Dengan cara bagaimana Nak?
Ela-elo. Laa Ilaaha Ilallah, berdzikir mengingat Allah
Karena Allah yang menciptakan kita semua dan segala alam raya ini
Dia-lah yang mengerti kebutuhan kita
Dan tiada sandaran selain kepadaNya dalam kita berfikir, bermain, bekerja, berkarya dalam keseharian

Si Rama menyang Solo

Siram, mandi atau bersucilah
Menyang, menuju Solo (Sholat) yang harus kalian lakukan
Tentu saja Nak
Bapak hanya pesan satu saja pada kalian semua
Jaga sholat Nak mulai sekarang
Jaga sholat jangan sampai kalian lupa
Jaga sholat walau dalam kondisi lelah, capek, senang, sedih, bermain atau menyendiri
Sebab sholat akan menjaga kalian dari kesalahan
dari kesesatan jalan yang kalian nanti tempuh
Ingat ya Nak pesan Bapak ini
Jaga Sholat!

Oleh-olehe payung mutho

Kalau kalian menjaga sholat dengan baik
maka kalian akan memperoleh oleh-oleh berupa payung, perlindungan dari Allah
Siapa sih yang bisa melawan Allah kalau Dia sudah berkehendak?
tidak akan ada Nak
Maka upayakan kalian memperoleh payung Allah dengan selalu mengadu dan berserah diri kepadaNya
Begitu kan Nak?

Mak jenthit lolo lo bah

Kalian nanti pasti akan tahu terkait sesuatu yang ghaib yaitu kematian
kematian itu datangnya pasti
tak ada yang tahu karena itu adalah hak prerogatif Allah
Tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sedetik
Karena Allah sudah menentukan kematian setiap makluknya secara MUTLAK
Oleh karenanya Nak
Saat kita hidup, kalian harus senantiasa bersiap dan waspada
Selalu beriman dan mengerjakan amal sholeh

Yen obah medeni bocah

Ingat Nak kalu kematian sudah datang
Semua sudah terlambat
tidak bisa di rewind kebelakang
tidak dapat lagi meminta untuk dikembalikan ke dunia memperbaiki kehidupan lalu
karena kesempatan telah musnah
Kalian bayangkan bagaimana seandainya ada mayat hidup
Pasti kalian takut kan?
Tidak akan ada itu

Yen urip golekko dhuwit

Kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini
Saat masih hidup
Kalau ingin kaya, ingin membantu orang lain, ingin memulyakan orang tua, sekaranglah saatnya
Sebelum terlambat, sebelum segala pintu kesempatan tertutup maka berkaryalah Nak
persenjatai dengan tiga jimat andalan
IKHTIAR, DOA dan BERSERAH KEPADA ALLAH
Insya Allah kita akan selamat Nak
Dunia akhirat

sumber: WayangPrabu
lebih lanjut...

Minggu, April 19, 2009

Bermesraan Ala Rasulullah

nikah.com, Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya?

Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh komunikasi non verbal, dalam bentuk kemesraan tersebut.

Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:

1. Tidur dalam satu selimut bersama istri
Dari Atha' bin Yasar: "Sesungguhnya Rasulullah saw dan 'Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan 'Aisyah, tiba-tiba 'Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, 'Mengapa engkau bangkit?' Jawabnya, 'Karena saya haidh, wahai Rasulullah.' Sabdanya, 'Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.' Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau." (HR Sa'id bin Manshur)

2. Memberi wangi-wangian pada auratnya
'Aisyah berkata, "Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya." (HR Ibnu Majah)

3. Mandi bersama istri
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana)." (HR 'Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)

4. Disisir istri
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh." (HR Ahmad)

5. Meminta istri meminyaki badannya
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya 'Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah 'aqabah." (HR Ibnu 'Asakir)

6. Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari 'Aisyah ra, dia berkata, "Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya." (HR 'Abdurrazaq dan Sa'id bin Manshur)

7. Membelai istri
"Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya." (HR Ahmad)

8. Mencium istri
Dari 'Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu', kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu'nya." (HR 'Abdurrazaq)

Dari Hafshah, putri 'Umar ra, "Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa." (HR Ahmad)

9. Tiduran di pangkuan istri
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al-Qur'an." (HR 'Abdurrazaq)

10. Memanggil dengan kata-kata mesra
Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti 'Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).

11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi saw biasa memijit hidung 'Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, "Wahai 'Uwaisy, bacalah do'a: 'Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan." (HR Ibnu Sunni)

12. Membersihkan tetesan darah haidh istri
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu." (HR Nasa'i)

13. Bermesraan walau istri haidh
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i'tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya." (HR 'Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

14. Memberikan hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, "Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, 'Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu."

Ia (Ummu Kultsum) berkata, "Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah." (HR Ahmad)

15. Segera menemui istri jika tergoda
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, "Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan....Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu." (HR Tirmidzi)

Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Nah, silakan mencoba.• Ira Istadi

sumber: hidayatullah.com

lebih lanjut...

Minggu, September 28, 2008

Banyak Anak (Tetap) Banyak Rezeki

By Bayu Gautama

nikah.com, Sewaktu masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama, saya sering termakan satu propaganda “keluarga kecil keluarga bahagia” dan “dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja”. Dan itu ternyata berbekas sampai tahun-tahun berikutnya. Meski juga dianggap belum layak menikah untuk ukuran anak masih berseragam putih abu-abu, namun satu tekad sudah tertanam dalam-dalam di dada ini kelak menikah nanti punya anak cukup dua saja, laki-laki perempuan sama saja karena keluarga kecil akan melahirkan kebahagiaan. Dua kesalahan berpikir yang entah siapa yang memulai dan menciptakannya serta motif apa dibalik propaganda tersebut, tapi bolehlah karena sempat menyesaki benak ini untuk ‘hanya’ punya keluarga kecil saja.

Di Perguruan tinggi, saat kemampuan berpikir jauh lebih meningkat (sebenarnya kemampuan berpikir tetap sama luasnya dengan ketika saya masih di sekolah dasar sekalipun, mungkin tepatnya kesempatan untuk memperluas cakrawala berpikir) seiring dengan pertumbuhan kedewasaan baik dewasa secara fisik yang ditandai dengan optimalisasi fungsi organ-organ reproduksi, selain perkembangan sel-sel otot tubuh yang sekaligus menandakan perbedaan pria dan wanita, dewasa secara psikologis, dimilikinya kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan, serta mampu menjalani hubungan interdependensi, dan dewasa secara sosial-ekonomi, ditampakkan dalam kemampuan seseorang untuk membiayai kebutuhan hidup yang layak. Maka makin terbukalah pemahaman-pemahaman baru bahwa apa yang telah selama ini bertengger di benak saya tentang keluarga kecil keluarga bahagia kemudian saya nilai sebagai kesalahan pertama, dan cukup dua anak laki perempuan sama saja, saya patok sebagai kesalahan kedua dari kebodohan berpikir saya. Kesalahan ketiga saya adalah tidak belajar dari orangtua sendiri (dan kebanyakan orangtua lainnya) yang kebanyakan jumlah anaknya tidak kurang dari lima atau rata-rata segitu.

Karena kemudian, dalam interaksi dan interelasi sehari-hari banyak saya temukan keluarga-keluarga yang lumayan bererot buntutnya tetap tenang meski mulut di kanan-kiri sering usil dengan pertanyaan-pertanyaan ‘nggak repot tuh’, ‘berapa sih gajinya, koq anak sampe delapan gituh’ atau juga pernyataan tidak berbobot seperti, ‘gue sih udah mati berdiri kali punya anak banyak, satu aja stress’. Celoteh-celoteh yang kemudian dianggap angin lalu oleh mereka yang memiliki banyak anak, tetapi tidak oleh saya. Lagi-lagi saya termakan oleh propaganda yang setelah saya pelajari nampaknya direkayasa sedemikian rupa bahwa banyak anak justru merepotkan, dan tidak berlaku lagi satu keyakinan orangtua kita dulu bahwa banyak anak banyak rezeki.

Untuk membuang keraguan itu, saya beranikan bertanya kepada salah seorang ustadz yang kebetulan anaknya sudah tidak bisa dibilang sedikit karena untuk mengingat mana anak ke lima ke enam-nya saja sudah garuk-garuk kepala, terlebih harus menghapal satu persatu tanggal kelahiran mereka. “wong manggil aja sering salah koq bapaknya itu” kata istrinya. Kemudian saya mendapatkan pelajaran baru lagi, kali ini sangat sederhana namun sarat makna. Dulu, cerita sang Ustadz, sewaktu anaknya masih dua mereka makan nasi dengan lauk pauk seadanya, kadang ikan, kadang tempe, ketemu daging atau ayam goreng alhamdulilaah seminggu sekali. Sekarang setelah anak delapan, ternyata nggak berubah menunya. “Coba ente pikir, berkurang ape bertambah rezeki ane” tantang si Ustadz itu. Saya pun ngeloyor pergi dengan pencerahan baru di benak saya, lagipula siapa yang berani jamin kalau anaknya cukup dua saja bertahun-tahun kemudian bisa makan ayam setiap hari … la wong rezeki itu sudah ada yang mbagi-bagi koq.

Anehnya, ini yang sampe sekarang saya dibuat pusing bagaimana meluruskan pandangan masyarakat, koq ya tidak sedikit masyarakat sekarang yang menganggap punya anak banyak semacam ‘satu keanehan’. Zaman sudah berubah bung, jangan pake gaya kolot, pikir mereka. Ini sama halnya dengan soal poligami, ada orang baik-baik yang menikah lagi, malah dianggap satu hal negatif. “ustadz koq istrinya dua” nah lho! Yang lebih parah lagi kadang-kadang ditambahi gelar “tukang kawin”. Eh giliran ada yang jelas-jelas selingkuh malah dianggap lumrah dan satu hal yang biasa. Hmmm rupanya ibu-ibu kita nih masih mending suaminya selingkuh ketimbang menikah lagi secara sah dan terhindari dari dosa. Saya kemudian tambah berpikir, mungkin saja propaganda yang pertama ada hubungannya dengan soal poligami ini. Bayangkan, kalau ada seorang wanita yang karena memang jodohnya harus menikah dengan lelaki yang beristri, bukankah itu membuka peluang terlahirnya generasi-generasi baru yang baik, karena berasal dari rahim yang baik serta ‘bibit’ yang baik pula. Jadi, jelas ini bukan lagi rekayasa, tapi meningkat menjadi konspirasi rekayasa untuk membatasi pertumbuhan generasi muslim di negara kita. Entahlah, masih perlu dibuktikan. Tapi yang jelas, seorang teman saya baru saja menikah (lagi) bertambah rezekinya. Katanya, sekarang ini dia sangat sibuk untuk memenuhi jadwal menjadi pembicara di berbagai kesempatan dan tempat dengan tema “poligami”. Hmmm …

Sebab, di negara tetangga kita Malaysia baru-baru ini ada satu kebijakan yang dikeluarkan oleh komunitas etnis Tionghoa di negeri Jiran itu yang merasa khawatir dengan berkurangnya populasi etnis mereka. Maka keluarlah satu anjuran untuk melahirkan banyak anak dengan janji bonus dan biaya perawatan anak keempat dan seterusnya. Slogan yang cukup terkenal disana kurang lebih berbunyi, Satu sangat sedikit, Dua masih kurang, Tiga belum cukup, Empat perlu ditambah. Saya jadi teringat dengan Ustadz yang pernah saya tanya agar pindah saja ke Jiran kita itu agar anak ke lima sampe ke delapannya mendapatkan biaya perawatan yang jumlahnya tidak kurang dari 4juta rupiah per anak. Eh, dia malah nyengir dan nanya ke saya, “anak ente udah berapa?” nah lho, “ini mah nggak ada hubungannya dengan anak saya tadz!” saya jawab begitu “lagi pula anak saya cuman dua”.

Justru itulah, pelajaran baru lagi nih, Ustadz itu cuma bilang, orang-orang yang anaknya banyak, sesuai janji Allah, Dia tambahkan rezekinya. “lalu bagaimana dengan mereka yang menikah lagi tadz?” tanya saya. “Ente lucu … kalau nambah anak aja nambah rezeki gimana lagi kalau nambah orang yang bisa ngasih ente anak” nah lho … “Ustadz sendiri kenapa nggak nambah he he … istri?” saat menanyakan ini, saya harus melirik tidak ada bu ustadz di ruangan tamunya. Tapi, ustadz malah memberikan jawaban yang misteri buat saya, menurutnya, dia (terutama istrinya) untuk sementara belum mau nambah rezeki dari situ, katanya, biarlah rezekinya untuk sementara nambah dari bertambahnya jumlah anak mereka.

Sudahlah, berapapun anak anda, berapapun istri anda, saya acungi jempol. Untuk sementara saya yang masih beranak dua ini cukup sabar dengan rezeki yang saya dapatkan. Sambil terus berteriak-teriak kepada sahabat-sahabat saya yang bahkan sekedar ‘melirik’ seseorang untuk diajak menciptakan lubang-lubang rezeki baru pun belum dilakukannya. Paling-paling setiap bertemu mereka, sambil memamerkan dua anak saya, acungan jempol tangan terbalik kebawah senantiasa saya arahkan ke mereka. Wallahu’a’lam bishshowaab.

sumber : eramuslim.com
lebih lanjut...

Senin, September 22, 2008

Menikah dengan Motor

nikah.com, "Ikhwan-nya menikah ama motor sich, makanya gak nikah-nikah. Bikin kita gelisah dalam penantian." Begitulah selentingan yang terdengar di kalangan akhwat di daerahku. Dan kebetulan selentingan itu kedengar juga di telingaku, maka dengan berlagak sebagai tim pencari fakta, kucoba mengkorek beberapa ikhwan yang secara nggak langsung "tertembak" dengan ungkapan tersebut.


*---*


"Coba pikir dech akh, kayaknya gak adil mereka menyalahkan kita yang menunda pernikahan karena harus melunasi cicilan motor. Motor ini kan sarana dakwah kala kita dituntut untuk mobilitas tinggi. Kalau gak ada motor kan susah kemana-mana, kegiatan terhambat, ongkos transportasi melunjak dan lain-lain. Sekarang kan antum bisa lihat dengan ane punya motor kan banyak aktifitas dakwah yang kepegang, bener kan akh." Itu kata ikhwan yang memang menjadikan kos-kosanya sebagai rumah singgah kala butuh mandi dan ganti baju saja. Selebihnya selalu di luar rumah untuk urusan dakwah, dari TPA, RISMA, Kepanduan, dan seabrek kegiatan lainnya.


"Dan lagi akh, ada gak akhwat yang mau nikah dengan kita ketika kita punya banyak utang, cicilan motor salah satunya. Kayaknya ane belum yakin ada yang mau tuch. Trus kalaupun ada kan beban mental bagi kita, menikah kok biar ada yang bantuin bayar utang. Kayaknya muka kita mo ditaruh dimana, gitu?" Timpal ikhwan yang lain gak mau kalah.


"Belum lagi untuk biaya walimah dan mahar. Ane gak yakin mereka dan keluarga mereka mau kalo kita ngadain walimahnya biasa saja. Apa kata tetangga katanya. Antum kan tahu, akhwat itu kan kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. So pasti keluarganya ingin walimahnya minimal normal seperti masyarakat sekitarnya. Nah kalau kita dalam posisi nyicil motor kan tentunya gak punya cukup dana untuk itu." Tambah ikhwan yang lainnya.


"Truzz lagi akh, kalo ada akhwat dan keluarganya mau acara walimah dan maharnya biasa saja. Ada gak akhwat yang mau hidup S4 (Sungguh Sangat Susah Sekali). Tinggal di kos-kosan ukuran 2,5 x 3 m, makan tiap hari ama ikan asin, beli baju baru dua tahun sekali, apalagi ngomongin masalah rihlah. Itu belum kalo ada beban anak. Dan kayaknya gak tega dech nikahin mereka untuk kita sengsarain." Duh perasaan sekali nih ikhwan.


*---*


Nah, setelah fakta-fakta terkumpul dari mereka yang menjadi "korban" selentingan akhwat di atas maka agaknya saya perlu membuat laporan sebagai berikut:


1.Ikhwan mengkredit motor karena perlu mobilitas dakwah yang tinggi.


2.Mereka bukannya gak pengin nikah (bahkan beberapa sebenarnya udah wajib nikah), tapi mereka gak PeDe dengan kualitas akhwat yang sanggup menerima segala keterbatasan mereka.


3.Adanya egoisme ikhwan yang tidak mau melibatkan istrinya nantinya dalam permasalahan keuangan keluarga, dengan alasan dia adalah kepala rumah tangga, ikhwan lagi. Dimana nafkah adalah tanggung jawabnya.


4.Adanya perasaan minder di kalangan ikhwan sebagai kalangan bawah untuk dapat akhwat yang rata-rata dari keluarga menengah keatas.


5.Adanya perasaan bahwa rizki itu matematis, sehingga nafkah keluarga adalah matematis, jadinya menikah adalah matematis. Di sini mungkin kita renungkan atas kurangnya iman para ikhwan akan janji Allah yang akam memampukan mereka jika mereka tidak mampu.


Setelah melihat laporan diatas maka ada beberapa saran dan renungan kepada semua elemen dakwah untuk mengatasi persoalan ini.


Kepada Ukhti, janganlah hanya menghakimi para ikhwan dengan tidak berani, pengecut, gak punya nyali. Tapi cobalah mengerti keadaan mereka (khususnya yang membuat mereka tidak pede untuk menikah), turunkanlah grade anda tentang calon suami, baik status pendidikan, status ekonomi, ataupun yang lainnya. Jangan lupa kondisikan keluarga besar anti dengan fakta-fakta tersebut.


Kepada para Akhi, pertebalah keimananmu, tingkatkan ruhiyahmu. Cobalah untuk menghilangkan logika matematis untuk masalah nikah ini. Pede-lah dengan keadaanmu saat ini, dan komunikasikan keadaanmu saat ta’aruf. Yakinkanlah hatimu kalau Allah akan membantumu.


Kepada para Murobbi, bijaklah menyikapi problematika ini. Bantulah mad’u anda menghadapi permasalahan pribadinya tersebut. Jadilah ayah bagi mereka, jangan hanya jadi guru yang hanya transfer ilmu, jangan pula hanya jadi atasan yang meminta mereka untuk sami’na wa atho’na atas tugas yang diberikan.


Agaknya tugas saya sebagai tim pencari fakta, mungkin banyak kekurangan atas laporan saya. Jika ada data-data baru yang antum miliki, silahkan bisa dikirimkan pada alamat yang ada agar laporan ini menjadi lebih sempurna. Wallahu’alam bish shiwab.

sumber : unknown

lebih lanjut...

Minggu, September 21, 2008

Ancaman Bagi Orang Yang Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan Tanpa 'Udzur Syar'i

nikah.com,

عن أبي هُرَيْرَةَ قالَ: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم "مَنْ أفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ منْ غَيْرِ رُخْصَةٍ ولا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِ عنهُ صَوْمُ الدّهْرِ كُلّهِ وإنْ صَامَهُ". رواه الترمذي


Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ’alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa mendapatkan rukhshoh (keringanan) dan juga tanpa adanya sakit, maka seluruh puasa yang dilakukannya selama setahun tidak dapat menimpalinya (membayarnya)." (HR.at-Turmudziy)


عن أبي هُرَيْرَةَ قالَ: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم "مَنْ أفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ منْ غَيْرِ عِلَّةٍ ولا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدّهْرِ كُلّهِ وإنْ صَامَهُ" . ذكره البخاري معلقا


Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ’alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa adanya alasan (’udzur) ataupun sakit, maka seluruh puasa yang dilakukannya selama setahun tidak dapat menimpalinya (membayarnya)." (HR.al-Bukhariy secara Ta’liq)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa adanya alasan (’udzur), maka tidak ada artinya puasa selama setahun hingga dia bertemu dengan Allah; jika Dia menghendaki, maka Dia akan mengampuninya dan bila Dia menghendaki, maka Dia akan menyiksanya." (Lihat, Fathul Bâriy, Jld.IV, h.161)

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahiliy radliyallâhu ’anhu, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ’alaihi Wa Sallam bersabda, ’Tatkala aku sedang tidur, tiba-tiba datang dua orang kepadaku, lantas meraih kedua lengan atasku, kemudian membawaku pergi ke bukit yang terjal. Keduanya berkata, ’Naiklah.’ Lalu aku berkata, ’Aku tak sanggup.’ Keduanya berkata lagi, ’Kami akan membimbingmu supaya lancar.’ Maka akupun naik hingga bilamana aku sudah berada di puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara-suara melengking, maka akupun berkata, ’Suara-suara apa ini?.’ Mereka bekata, ’Ini teriakan penghuni neraka.’ Kemudian keduanya membawaku pergi, tiba-tiba aku sudah berada di tengah suatu kaum yang kondisinya bergelantungan pada urat keting (urat diatas tumit) mereka, sudut-sudut mulut (tulang rahang bawah) mereka terbelah sehingga mengucurkan darah.’ Aku bertanya, ’Siapa mereka itu?.’ mereka menjawab, ’Merekalah orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa) sebelum dihalalkannya puasa mereka (sebelum waktu berbuka).’ " . (HR.an-Nasa`iy, di dalam as-Sunan al-Kubro sebagaimana di dalam buku Tuhfatul Asyrâf, Jld.IV, h.166; Ibn Hibban di dalam kitab Zawâ`id-nya, No.1800; al-Hâkim, Jld.I, h.430 . Dan sanadnya adalah Shahîh. Lihat juga, Kitab Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, No.995, Jld.I, h.420)

Demikianlah gambaran yang amat mengenaskan dari azab yang kelak akan dialami oleh mereka-mereka yang melanggar kehormatan bulan suci Ramadlan dan mengejek syi’ar yang suci ini dengan tidak berpuasa di siang bolong secara terang-terangan. Sungguh, mereka akan digantung dari ujung kaki mereka layaknya binatang yang digantung saat akan disembelih dimana posisi kakinya diatas dan kepala di bawah. Ditambah lagi, sudut-sudut mulut mereka juga akan terbelah dan mengucurkan darah. Kondisi tersebut benar-benar menjadi gambaran yang sadis dan mengenaskan.
Apakah setelah itu, mereka yang telah berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri, melanggar kehormatan bulan yang diberkahi ini, tidak mengindahkan kehormatan waktu dan hak Sang Khaliq dan menghancurkan rukun ke empat dari rukun Islam tanpa mau ambil peduli untuk apa mereka sebenarnya diciptakan tersebut, mau menjadikannya sebagai pelajaran berharga?

UCAPAN PARA ULAMA

Sementara para ulama menyatakan bahwa orang yang berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadlan tanpa ’udzur, maka dia telah melakukan salah satu dari perbuatan dosa besar (Kaba`ir).
Berikut beberapa ucapan para ulama:
1. Imam adz-Dzahabiy berkata, "Dosa besar ke-enam adalah orang yang berbuka pada akhir Ramadlan tanpa ’udzur.." (al-Kabâ`ir:49)
2. Syaikhul Islam, Ibn Taimiyyah berkata, "Bilamana orang yang muntah dianggap sebagai orang yang diterima ’udzurnya, maka apa yang dilakukannya adalah boleh hukumnya. Dengan begitu, dia termasuk kategori orang-orang sakit yang harus mengqadla puasa dan tidak termasuk pelaku dosa-dosa besar yang mereka itu berbuka (di bulan Ramadlan) tanpa ’udzur…" (Majmu’ Fatawa:XXV/225)
3. al-Quffâl berkata, "…Dan barangsiapa yang berbuka di bulan Ramadlan selain karena jima’ tanpa ’udzur, maka wajib baginya mengqadla dan menahan diri dari sisa harinya. Dalam hal ini, dia tidak membayar kaffarat (tebusan) namun dia dita’zir oleh penguasa (diberi sanksi yang pas menurut mashlahat yang dipandangnya). Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Daud azh-Zhahiriy…" (Hilyah al-Awliyâ`:III/198)
4. Syaikh Abu Bakar al-Jazâ`iriy sebagai yang dinukilnya dari Imam adz-Dzahabiy berkata, "…Sebagai yang sudah menjadi ketetapan bagi kaum Mukminin bahwa barangsiapa yang meningglkan puasa bulan Ramadlan bukan dikarenakan sakit atau ’udzur maka hal itu lebih jelek daripada pelaku zina dan penenggak khamar bahkan mereka meragukan keislamannya dan menganggapnya sebagai Zindiq atau penyeleweng…" (Risalah Ramadlan:66)

Seruan
Sesungguhnya orang-orang yang dengan terang-terangan berbuka (tidak berpuasa) di siang bolong pada bulan Ramadlan sementara kondisi mereka sangat sehat dan tidak ada ’udzur yang memberikan legitimasi pada mereka untuk tidak berpuasa adalah orang-orang yang sudah kehilangan rasa malu terhadap Allah dan rasa takut terhadap para hamba-Nya, otak-otak mereka telah dipenuhi oleh pembangkangan, hati mereka telah dipermainkan dan disentuh oleh syaithan dan gelimang dosa.
Mereka tidak menyadari bahwa dengan tidak berpuasa tersebut, berarti mereka telah menghancurkan salah satu dari rukun-rukun dien ini. Mereka adalah orang-orang yang fasiq, kurang iman dan rendah derajat. Kaum Muslimin akan memandang mereka dengan pandangan hina. Mereka termasuk para pelaku maksiat yang besar dan kelak di hari Kiamat, siksaan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Kuasa telah menunggu mereka.
Semoga Allah menjauhkan kita dari hal itu, nau’ûdzu billâhi min dzâlik. Wallahu a’lam.


(Diambil dari buku ash-Syiyâm; Ahkâm Wa Adâb karya
Prof.Dr.Syaikh ’Abdullah ath-Thayyar, h.109-111)

lebih lanjut...
sekolahbisnis.com