--- AHLAN WA SAHLAN, SELAMAT DATANG DI NIKAH.COM, KAMI HADIR SEBAGAI SAJIAN UNTUKMU YANG AKAN MENIKAH DAN TELAH MENIKAH, SERBA-SERBI DALAM KELUARGA DAN ANAK-ANAK ---
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, Februari 20, 2011

Ketika "Recehan" Begitu Berharga


oleh : Nur Afif En., S.Pd.T.

nikah.com;
Coba perhatikan bagaimana anak-anak saat makan! Adakah pertanyaan di dalam benak kita, mengapa mereka makan hingga berantakan? Tentu jawaban yang paling mendekati benar (atau memang itulah jawabannya) adalah : karena mereka sedang belajar. Lalu apa halnya jika yang makan adalah orang dewasa dengan akal yang sehat di dalam kepalanya. Tentu jawaban yang mungkin menyatakan bahwa orang tersebut “jorok”. Bagaimana lagi jika makanan yang seharusnya habis kemudian “disisakan”. Bagi orang “kaya” mungkin bukan suatu masalah besar, namun untuk orang miskin dengan kondisi serba kurang tentu akan menjadi masalah besar. Mubazir orang yang menyisakan makanan kemudian dibuang begitu saja.


Coba sejenak kita renungkan, manakala kita hari ini makan, dengan kondisi berlebihan yang pada akhirnya menyisakan makanan yang seharusnya dapat dimakan oleh orang yang lebih membutuhkan. Kemudian tiba-tiba kita berada di tengah-tengah kondisi dimana tidak ada makanan sama sekali. Apakah kita tidak memikirkan makanan yang tersisa kemarin, yang kemudian terbuang begitu saja, “andai saja kemarin aku tidak menyia-nyiakan makanan, mungkin...?”.

Ini hanya sebuah contoh dari kehidupan kita mungkin disekitar kita. Contoh tersebut kadang-kadang nyata kita alami, atau orang lain yang mengalami sementara kita melihatnya begitu saja. Contoh kecil ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita yang mau berfikir.

Di saat kita “kaya”, dengan isi dompet yang luar biasa banyak, berlapis-lapis, berwarna-warni. Kita mencabutnya satu lembar warna merah dengan gambar Proklamator. Kita gunakan untuk membayar suatu barang atau jasa, dan kebetulan tersisa dengan beberapa lembar uang kertas yang kumal dan beberapa koin. Pernahkan kita memikirkan koin yang ada di genggaman kita, di dalam kantong kita? Mungkin tidak. Uang koin atau “recehan” mungkin akan terlantar, ada di atas bupet, ada di dalam laci, ada di atas kusen, ada di sela-sela baju, ada di dasar kolam, ada di kotak sabun kamar mandi, yang jelas tidak di dalam otak kita.

Suatu ketika ada pengemis, gelandangan, tukang minta-minta menyodorkan tangan berharap kita untuk dapat berbagi dengannya. Kadang tanpa berpikir panjang dari mulut kita terlepas empat kata, “maaf gak ada recehan”. Mengapa? Bukankah begitu banyak recehan yang kita telantarkan, hanya gara-gara nilainya yang kecil? Sementara lidah kita mengingkarinya dengan rangkaian kata memelas, “maaf gak ada recehan”.

Hingga suatu saat kita mengalami masa yang sulit, lembaran yang warna-warni yang biasanya menghuni dompet kita, kini tidak lagi terlihat. Hanya seberkas surat-surat yang mungkin kita anggap penting yang masih bertahan, betah menghuni dompet kita. Hingga suatu saat brangkas di rumah kita mulai nyaring bunyinya. Hingga suatu saat kita membutuhkan kopi dan gula sebagai teman duduk. Hingga suatu saat anak-anak minta dibelikan kue di warung sebelah. Hingga suatu saat kita menginginkan “kerupuk” untuk lauk makan kita sebagai teman dari sambal dan sepotong sayur mentah diantaranya. Hingga suatu saat kita mulai mencari recehan yang tadinya kita mengatakan “maaf gak ada recehan”.

Kita kemudian melakukan searching di dalam otak kita, “dimana lagi recehan yang kemarin berada?” -sambil menggaruk kepala tanpa rasa gatal-. Ketemu, kemudian kita mengumpulkannya. Sejenak kemudian kita pergi ke warung manakala nilainya kita anggap cukup untuk membeli “kerupuk”, lebihnya buat beli kue untuk anak-anak. Masalah kopi nanti saja, “kerupuk” lebih penting, kue untuk anak juga lebih penting.

Ini sebuah kenyataan yang juga sering terjadi pada kita, selain contoh di atas. Lalu, pernahkan kita memikirkannya lebih dalam lagi? Seharusnya “ya”.

Coba kita fikirkan dengan yang namanya “MASA”, waktu. Andai waktu nasibnya seperti recehan, mungkin kita tidak akan menyesalinya. Artinya, ketika sedikit waktu yang pernah kita sia-siakan kemudian dapat kita kumpulkan lagi untuk diakumulasikan menjadi waktu yang lebih berharga sehingga kita dapat memanfaatkannya lagi. Tapi rupanya “sang waktu” tidak mau disamakan dengan recehan di atas.

Sang waktu akan pergi begitu saja, ketika sang empunya menyia-nyiakannya. Dia akan pergi meninggalkan kita begitu saja, tidak pernah kemudian memanggil kita untuk menunggu. Sementara kita tidak menghiraukan, sang waktu makin tidak terlihat dan kandang terlupakan di belakang kita.

Ada sebuah rangkaian pertanyaan yang mungkin pernah ditanyakan oleh orang bijak, guru ngaji, orang tua, guru sekolah atau siapa saja. Pertanyaannya adalah:

"Apa yang selalu engkau dekati selama hidup di dunia ini? Lalu, apa yang selalu engkau jauhi selama hidup di dunia ini?"

Yang selalu kita dekati selama ini adalah "MAUT", tiap langkah, tiap detik kita berjalan, maka tidak ada tujuan lain selain mendekati maut. Yang selalu kita jauhi selama ini adalah "WAKTU", tiap detik yang pernah kita tinggalkan maka semakin jauh dia ada di belakang kita, tidak akan pernah kita menemuinya lagi.

Andai saja kita tidak menyia-nyiakan WAKTU...?
lebih lanjut...

Minggu, September 28, 2008

Banyak Anak (Tetap) Banyak Rezeki

By Bayu Gautama

nikah.com, Sewaktu masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama, saya sering termakan satu propaganda “keluarga kecil keluarga bahagia” dan “dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja”. Dan itu ternyata berbekas sampai tahun-tahun berikutnya. Meski juga dianggap belum layak menikah untuk ukuran anak masih berseragam putih abu-abu, namun satu tekad sudah tertanam dalam-dalam di dada ini kelak menikah nanti punya anak cukup dua saja, laki-laki perempuan sama saja karena keluarga kecil akan melahirkan kebahagiaan. Dua kesalahan berpikir yang entah siapa yang memulai dan menciptakannya serta motif apa dibalik propaganda tersebut, tapi bolehlah karena sempat menyesaki benak ini untuk ‘hanya’ punya keluarga kecil saja.

Di Perguruan tinggi, saat kemampuan berpikir jauh lebih meningkat (sebenarnya kemampuan berpikir tetap sama luasnya dengan ketika saya masih di sekolah dasar sekalipun, mungkin tepatnya kesempatan untuk memperluas cakrawala berpikir) seiring dengan pertumbuhan kedewasaan baik dewasa secara fisik yang ditandai dengan optimalisasi fungsi organ-organ reproduksi, selain perkembangan sel-sel otot tubuh yang sekaligus menandakan perbedaan pria dan wanita, dewasa secara psikologis, dimilikinya kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan, serta mampu menjalani hubungan interdependensi, dan dewasa secara sosial-ekonomi, ditampakkan dalam kemampuan seseorang untuk membiayai kebutuhan hidup yang layak. Maka makin terbukalah pemahaman-pemahaman baru bahwa apa yang telah selama ini bertengger di benak saya tentang keluarga kecil keluarga bahagia kemudian saya nilai sebagai kesalahan pertama, dan cukup dua anak laki perempuan sama saja, saya patok sebagai kesalahan kedua dari kebodohan berpikir saya. Kesalahan ketiga saya adalah tidak belajar dari orangtua sendiri (dan kebanyakan orangtua lainnya) yang kebanyakan jumlah anaknya tidak kurang dari lima atau rata-rata segitu.

Karena kemudian, dalam interaksi dan interelasi sehari-hari banyak saya temukan keluarga-keluarga yang lumayan bererot buntutnya tetap tenang meski mulut di kanan-kiri sering usil dengan pertanyaan-pertanyaan ‘nggak repot tuh’, ‘berapa sih gajinya, koq anak sampe delapan gituh’ atau juga pernyataan tidak berbobot seperti, ‘gue sih udah mati berdiri kali punya anak banyak, satu aja stress’. Celoteh-celoteh yang kemudian dianggap angin lalu oleh mereka yang memiliki banyak anak, tetapi tidak oleh saya. Lagi-lagi saya termakan oleh propaganda yang setelah saya pelajari nampaknya direkayasa sedemikian rupa bahwa banyak anak justru merepotkan, dan tidak berlaku lagi satu keyakinan orangtua kita dulu bahwa banyak anak banyak rezeki.

Untuk membuang keraguan itu, saya beranikan bertanya kepada salah seorang ustadz yang kebetulan anaknya sudah tidak bisa dibilang sedikit karena untuk mengingat mana anak ke lima ke enam-nya saja sudah garuk-garuk kepala, terlebih harus menghapal satu persatu tanggal kelahiran mereka. “wong manggil aja sering salah koq bapaknya itu” kata istrinya. Kemudian saya mendapatkan pelajaran baru lagi, kali ini sangat sederhana namun sarat makna. Dulu, cerita sang Ustadz, sewaktu anaknya masih dua mereka makan nasi dengan lauk pauk seadanya, kadang ikan, kadang tempe, ketemu daging atau ayam goreng alhamdulilaah seminggu sekali. Sekarang setelah anak delapan, ternyata nggak berubah menunya. “Coba ente pikir, berkurang ape bertambah rezeki ane” tantang si Ustadz itu. Saya pun ngeloyor pergi dengan pencerahan baru di benak saya, lagipula siapa yang berani jamin kalau anaknya cukup dua saja bertahun-tahun kemudian bisa makan ayam setiap hari … la wong rezeki itu sudah ada yang mbagi-bagi koq.

Anehnya, ini yang sampe sekarang saya dibuat pusing bagaimana meluruskan pandangan masyarakat, koq ya tidak sedikit masyarakat sekarang yang menganggap punya anak banyak semacam ‘satu keanehan’. Zaman sudah berubah bung, jangan pake gaya kolot, pikir mereka. Ini sama halnya dengan soal poligami, ada orang baik-baik yang menikah lagi, malah dianggap satu hal negatif. “ustadz koq istrinya dua” nah lho! Yang lebih parah lagi kadang-kadang ditambahi gelar “tukang kawin”. Eh giliran ada yang jelas-jelas selingkuh malah dianggap lumrah dan satu hal yang biasa. Hmmm rupanya ibu-ibu kita nih masih mending suaminya selingkuh ketimbang menikah lagi secara sah dan terhindari dari dosa. Saya kemudian tambah berpikir, mungkin saja propaganda yang pertama ada hubungannya dengan soal poligami ini. Bayangkan, kalau ada seorang wanita yang karena memang jodohnya harus menikah dengan lelaki yang beristri, bukankah itu membuka peluang terlahirnya generasi-generasi baru yang baik, karena berasal dari rahim yang baik serta ‘bibit’ yang baik pula. Jadi, jelas ini bukan lagi rekayasa, tapi meningkat menjadi konspirasi rekayasa untuk membatasi pertumbuhan generasi muslim di negara kita. Entahlah, masih perlu dibuktikan. Tapi yang jelas, seorang teman saya baru saja menikah (lagi) bertambah rezekinya. Katanya, sekarang ini dia sangat sibuk untuk memenuhi jadwal menjadi pembicara di berbagai kesempatan dan tempat dengan tema “poligami”. Hmmm …

Sebab, di negara tetangga kita Malaysia baru-baru ini ada satu kebijakan yang dikeluarkan oleh komunitas etnis Tionghoa di negeri Jiran itu yang merasa khawatir dengan berkurangnya populasi etnis mereka. Maka keluarlah satu anjuran untuk melahirkan banyak anak dengan janji bonus dan biaya perawatan anak keempat dan seterusnya. Slogan yang cukup terkenal disana kurang lebih berbunyi, Satu sangat sedikit, Dua masih kurang, Tiga belum cukup, Empat perlu ditambah. Saya jadi teringat dengan Ustadz yang pernah saya tanya agar pindah saja ke Jiran kita itu agar anak ke lima sampe ke delapannya mendapatkan biaya perawatan yang jumlahnya tidak kurang dari 4juta rupiah per anak. Eh, dia malah nyengir dan nanya ke saya, “anak ente udah berapa?” nah lho, “ini mah nggak ada hubungannya dengan anak saya tadz!” saya jawab begitu “lagi pula anak saya cuman dua”.

Justru itulah, pelajaran baru lagi nih, Ustadz itu cuma bilang, orang-orang yang anaknya banyak, sesuai janji Allah, Dia tambahkan rezekinya. “lalu bagaimana dengan mereka yang menikah lagi tadz?” tanya saya. “Ente lucu … kalau nambah anak aja nambah rezeki gimana lagi kalau nambah orang yang bisa ngasih ente anak” nah lho … “Ustadz sendiri kenapa nggak nambah he he … istri?” saat menanyakan ini, saya harus melirik tidak ada bu ustadz di ruangan tamunya. Tapi, ustadz malah memberikan jawaban yang misteri buat saya, menurutnya, dia (terutama istrinya) untuk sementara belum mau nambah rezeki dari situ, katanya, biarlah rezekinya untuk sementara nambah dari bertambahnya jumlah anak mereka.

Sudahlah, berapapun anak anda, berapapun istri anda, saya acungi jempol. Untuk sementara saya yang masih beranak dua ini cukup sabar dengan rezeki yang saya dapatkan. Sambil terus berteriak-teriak kepada sahabat-sahabat saya yang bahkan sekedar ‘melirik’ seseorang untuk diajak menciptakan lubang-lubang rezeki baru pun belum dilakukannya. Paling-paling setiap bertemu mereka, sambil memamerkan dua anak saya, acungan jempol tangan terbalik kebawah senantiasa saya arahkan ke mereka. Wallahu’a’lam bishshowaab.

sumber : eramuslim.com
lebih lanjut...

Senin, September 22, 2008

Menikah dengan Motor

nikah.com, "Ikhwan-nya menikah ama motor sich, makanya gak nikah-nikah. Bikin kita gelisah dalam penantian." Begitulah selentingan yang terdengar di kalangan akhwat di daerahku. Dan kebetulan selentingan itu kedengar juga di telingaku, maka dengan berlagak sebagai tim pencari fakta, kucoba mengkorek beberapa ikhwan yang secara nggak langsung "tertembak" dengan ungkapan tersebut.


*---*


"Coba pikir dech akh, kayaknya gak adil mereka menyalahkan kita yang menunda pernikahan karena harus melunasi cicilan motor. Motor ini kan sarana dakwah kala kita dituntut untuk mobilitas tinggi. Kalau gak ada motor kan susah kemana-mana, kegiatan terhambat, ongkos transportasi melunjak dan lain-lain. Sekarang kan antum bisa lihat dengan ane punya motor kan banyak aktifitas dakwah yang kepegang, bener kan akh." Itu kata ikhwan yang memang menjadikan kos-kosanya sebagai rumah singgah kala butuh mandi dan ganti baju saja. Selebihnya selalu di luar rumah untuk urusan dakwah, dari TPA, RISMA, Kepanduan, dan seabrek kegiatan lainnya.


"Dan lagi akh, ada gak akhwat yang mau nikah dengan kita ketika kita punya banyak utang, cicilan motor salah satunya. Kayaknya ane belum yakin ada yang mau tuch. Trus kalaupun ada kan beban mental bagi kita, menikah kok biar ada yang bantuin bayar utang. Kayaknya muka kita mo ditaruh dimana, gitu?" Timpal ikhwan yang lain gak mau kalah.


"Belum lagi untuk biaya walimah dan mahar. Ane gak yakin mereka dan keluarga mereka mau kalo kita ngadain walimahnya biasa saja. Apa kata tetangga katanya. Antum kan tahu, akhwat itu kan kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. So pasti keluarganya ingin walimahnya minimal normal seperti masyarakat sekitarnya. Nah kalau kita dalam posisi nyicil motor kan tentunya gak punya cukup dana untuk itu." Tambah ikhwan yang lainnya.


"Truzz lagi akh, kalo ada akhwat dan keluarganya mau acara walimah dan maharnya biasa saja. Ada gak akhwat yang mau hidup S4 (Sungguh Sangat Susah Sekali). Tinggal di kos-kosan ukuran 2,5 x 3 m, makan tiap hari ama ikan asin, beli baju baru dua tahun sekali, apalagi ngomongin masalah rihlah. Itu belum kalo ada beban anak. Dan kayaknya gak tega dech nikahin mereka untuk kita sengsarain." Duh perasaan sekali nih ikhwan.


*---*


Nah, setelah fakta-fakta terkumpul dari mereka yang menjadi "korban" selentingan akhwat di atas maka agaknya saya perlu membuat laporan sebagai berikut:


1.Ikhwan mengkredit motor karena perlu mobilitas dakwah yang tinggi.


2.Mereka bukannya gak pengin nikah (bahkan beberapa sebenarnya udah wajib nikah), tapi mereka gak PeDe dengan kualitas akhwat yang sanggup menerima segala keterbatasan mereka.


3.Adanya egoisme ikhwan yang tidak mau melibatkan istrinya nantinya dalam permasalahan keuangan keluarga, dengan alasan dia adalah kepala rumah tangga, ikhwan lagi. Dimana nafkah adalah tanggung jawabnya.


4.Adanya perasaan minder di kalangan ikhwan sebagai kalangan bawah untuk dapat akhwat yang rata-rata dari keluarga menengah keatas.


5.Adanya perasaan bahwa rizki itu matematis, sehingga nafkah keluarga adalah matematis, jadinya menikah adalah matematis. Di sini mungkin kita renungkan atas kurangnya iman para ikhwan akan janji Allah yang akam memampukan mereka jika mereka tidak mampu.


Setelah melihat laporan diatas maka ada beberapa saran dan renungan kepada semua elemen dakwah untuk mengatasi persoalan ini.


Kepada Ukhti, janganlah hanya menghakimi para ikhwan dengan tidak berani, pengecut, gak punya nyali. Tapi cobalah mengerti keadaan mereka (khususnya yang membuat mereka tidak pede untuk menikah), turunkanlah grade anda tentang calon suami, baik status pendidikan, status ekonomi, ataupun yang lainnya. Jangan lupa kondisikan keluarga besar anti dengan fakta-fakta tersebut.


Kepada para Akhi, pertebalah keimananmu, tingkatkan ruhiyahmu. Cobalah untuk menghilangkan logika matematis untuk masalah nikah ini. Pede-lah dengan keadaanmu saat ini, dan komunikasikan keadaanmu saat ta’aruf. Yakinkanlah hatimu kalau Allah akan membantumu.


Kepada para Murobbi, bijaklah menyikapi problematika ini. Bantulah mad’u anda menghadapi permasalahan pribadinya tersebut. Jadilah ayah bagi mereka, jangan hanya jadi guru yang hanya transfer ilmu, jangan pula hanya jadi atasan yang meminta mereka untuk sami’na wa atho’na atas tugas yang diberikan.


Agaknya tugas saya sebagai tim pencari fakta, mungkin banyak kekurangan atas laporan saya. Jika ada data-data baru yang antum miliki, silahkan bisa dikirimkan pada alamat yang ada agar laporan ini menjadi lebih sempurna. Wallahu’alam bish shiwab.

sumber : unknown

lebih lanjut...

Minggu, September 21, 2008

Hakikat Sifat Malu (1)

nikah.com, Dari Abi Mas’ud al-Badri radhiallâhu ’anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: " Sesungguhnya diantara ucapan kenabian pertama (Adam) yang didapat oleh manusia (dari generasi ke generasi-red) adalah: ’jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan’ ". (H.R.Bukhari)

Catatan: Mushannif menyebutkan bahwa nash hadits seperti diatas adalah riwayat Bukhari, namun persisnya adalah sebagai berikut (tanpa kata al-Badri radhiallâhu ’anhu dan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam seharusnya dalam nash di shahih Bukhari adalah an-Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam ):

Takhrij hadits secara global

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ad-Daruquthni, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, ath-Thabrani dan lain-lain.


Makna Hadits secara global

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam menyatakan bahwa ucapan kenabian pertama (Adam ’alaihissalam) yang terus menerus didengar dari generasi ke generasi adalah "bila engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan".

Penjelasan Tambahan

Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam : "Sesungguhnya diantara ucapan kenabian pertama (Adam ’alaihissalam ) yang didapat oleh manusia (dari generasi ke generasi-red)" diatas mengisyaratkan bahwa ucapan ini ma’tsur (merupakan atsar) dari para nabi terdahulu, diwarisi dan selalu diperbincangkan oleh orang-orang dari abad ke abad. Ini artinya, bahwa kenabian terdahulu memang telah mengenal ucapan ini dan masyhur di kalangan manusia hingga sampai kepada orang pertama dari umat ini. Statement semacam ini didukung oleh sebagian riwayat hadits, yang berbunyi: "manusia-manusia terdahulu tidak mengenal ucapan kenabian pertama yang lain kecuali ucapan ini". (dikeluarkan oleh Humaid bin Zanjawaih, dan selainnya).

Makna sabda beliau : "jika engkau tidak merasa malu maka perbuatlah apa yang engkau inginkan"

Mengenai maknanya terdapat dua pendapat:

Pertama: kalimat tersebut bukan mengandung pengertian boleh berbuat sesuka hati, akan tetapi bermakna adz-Dzamm (celaan) dan an-Nahyu (larangan). Dalam mengimplementasikan pengertian diatas, terdapat dua cara :

Cara pertama: bahwa amr (perintah) tersebut bermakna: at-Tahdid wal wa’iid (ultimatum dan ancaman keras). Jadi maksudnya: jika engkau tidak memiliki rasa malu maka lakukanlah apa yang engkau inginkan sebab sesungguhnya Allah akan mengganjar perbuatanmu tersebut, seperti dalam firman Allah: "Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.,s. 41/Fushshilat:40). Dan firmanNya: "’Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. (Q.,.39/az-Zumar:15). Dan seperti makna hadits yang hanya ditautsiq (didukung kualitas sanad dan matannya) oleh Ibnu Hibban: "Barangsiapa yang menjual khamar (arak) maka hendaklah dia memotong-motong babi (baik untuk dijual atau dimakan)". Maksudnya : barangsiapa yang menghalalkan penjualan khamar/arak maka hendaklah terlebih dulu menghalalkan penjualan babi sebab kedua-duanya sama-sama diharamkan. Jadi disini ada perintah namun pengertiannya adalah larangan. Dan banyak lagi contoh-contoh yang lain; pendapat semacam ini adalah pilihan sekelompok ulama, diantaranya: Abul ’Abbas, Tsa’lab.

Cara kedua: bahwa amr (perintah) tersebut bermakna: al-Khabar (pemberitaan). Jadi maksudnya: barangsiapa yang tidak memiliki rasa malu, dia akan melakukan apa saja yang dia inginkan. Sebab sesungguhnya yang mencegahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk adalah sifat malu; orang yang tidak memiliki sifat ini, maka dia akan tenggelam ke dalam setiap perbuatan keji dan munkar dan orang yang seperti ini hanya bisa tercegah dari melakukannya bila dia memiliki rasa malu. Sepadan dengan makna ini adalah hadits Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam yang shahih: "barang siapa yang berdusta kepadaku maka hendaklah dia menyediakan tempat duduknya di neraka". Lafazh hadits ini berupa amr (perintah) namun maknanya adalah al-Khabar (pemberitaan) yakni bahwa orang yang berdusta terhadap beliau maka dia sudah menyediakan tempat duduknya di neraka. Pendapat ini adalah pilihan Abu ’Ubaid, al-Qaasim bin Sallaam, Ibnu Qutaibah, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, dan selain mereka. Abu Daud meriwayatkan dari Imam Ahmad yang mengindikasikan pendapat seperti ini juga.

Kedua: kalimat tersebut mengandung pengertian ; perintah untuk melakukan apa yang dia inginkan sesuai dengan makna lafazh tersebut secara zhahirnya. Jadi artinya: apabila apa yang ingin engkau lakukan termasuk perbuatan yang tidak perlu merasa malu untuk melakukannya baik dari Allah maupun manusia karena ia merupakan perbuatan keta’atan/kebajikan atau akhlaq yang baik dan etika yang dianggap baik; maka ketika itu perbuatlah apa yang ingin engkau lakukan. Pendapat ini dikemukakan oleh sekelompok ulama, diantaranya Abu Ishaq al-Marwazi asy-Syafi’i, dihikayatkan pendapat sepertinya dari Imam Ahmad, terdapat juga dalam sebagian manuskript ringkasan kitab "masaail Abi Daud", begitu juga seperti yang dihikayatkan oleh al-Khallal dalam kitabnya "al-Adab". Diantaranya perkataan sebagian Salaf ketika mereka ditanyai tentang definisi al-Muruuah : "bahwa engkau tidak melakukan sesuatu yang engkau malu melakukannya secara terang-terangan (sama malunya) di waktu engkau dalam kesendirian". Ungkapan ini sama dengan makna hadits "dosa adalah apa yang terbetik dalam hatimu sedangkan engkau takut orang lain mengetahuinya" (penjelasan tentang hadits ini telah kami tampilkan pada pembahasan yang lalu). Ada beberapa hadits yang senada dengan makna penjelasan diatas yang dipaparkan oleh Mushannif, diantaranya hadits dari Usamah bin Syuraik yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya "Shahih Ibni Hibban": dari Usamah bin Syuraik, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: "sesuatu yang Allah benci darimu (untuk dilakukan), maka janganlah engkau lakukan juga bila engkau sedang sendirian".

bersambung...

lebih lanjut...

Ancaman Bagi Orang Yang Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan Tanpa 'Udzur Syar'i

nikah.com,

عن أبي هُرَيْرَةَ قالَ: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم "مَنْ أفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ منْ غَيْرِ رُخْصَةٍ ولا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِ عنهُ صَوْمُ الدّهْرِ كُلّهِ وإنْ صَامَهُ". رواه الترمذي


Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ’alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa mendapatkan rukhshoh (keringanan) dan juga tanpa adanya sakit, maka seluruh puasa yang dilakukannya selama setahun tidak dapat menimpalinya (membayarnya)." (HR.at-Turmudziy)


عن أبي هُرَيْرَةَ قالَ: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم "مَنْ أفْطَرَ يَوْماً مِنْ رَمَضَانَ منْ غَيْرِ عِلَّةٍ ولا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدّهْرِ كُلّهِ وإنْ صَامَهُ" . ذكره البخاري معلقا


Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ’alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa adanya alasan (’udzur) ataupun sakit, maka seluruh puasa yang dilakukannya selama setahun tidak dapat menimpalinya (membayarnya)." (HR.al-Bukhariy secara Ta’liq)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, "Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) sehari di bulan Ramadlan tanpa adanya alasan (’udzur), maka tidak ada artinya puasa selama setahun hingga dia bertemu dengan Allah; jika Dia menghendaki, maka Dia akan mengampuninya dan bila Dia menghendaki, maka Dia akan menyiksanya." (Lihat, Fathul Bâriy, Jld.IV, h.161)

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahiliy radliyallâhu ’anhu, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu ’alaihi Wa Sallam bersabda, ’Tatkala aku sedang tidur, tiba-tiba datang dua orang kepadaku, lantas meraih kedua lengan atasku, kemudian membawaku pergi ke bukit yang terjal. Keduanya berkata, ’Naiklah.’ Lalu aku berkata, ’Aku tak sanggup.’ Keduanya berkata lagi, ’Kami akan membimbingmu supaya lancar.’ Maka akupun naik hingga bilamana aku sudah berada di puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara-suara melengking, maka akupun berkata, ’Suara-suara apa ini?.’ Mereka bekata, ’Ini teriakan penghuni neraka.’ Kemudian keduanya membawaku pergi, tiba-tiba aku sudah berada di tengah suatu kaum yang kondisinya bergelantungan pada urat keting (urat diatas tumit) mereka, sudut-sudut mulut (tulang rahang bawah) mereka terbelah sehingga mengucurkan darah.’ Aku bertanya, ’Siapa mereka itu?.’ mereka menjawab, ’Merekalah orang-orang yang berbuka (tidak berpuasa) sebelum dihalalkannya puasa mereka (sebelum waktu berbuka).’ " . (HR.an-Nasa`iy, di dalam as-Sunan al-Kubro sebagaimana di dalam buku Tuhfatul Asyrâf, Jld.IV, h.166; Ibn Hibban di dalam kitab Zawâ`id-nya, No.1800; al-Hâkim, Jld.I, h.430 . Dan sanadnya adalah Shahîh. Lihat juga, Kitab Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, No.995, Jld.I, h.420)

Demikianlah gambaran yang amat mengenaskan dari azab yang kelak akan dialami oleh mereka-mereka yang melanggar kehormatan bulan suci Ramadlan dan mengejek syi’ar yang suci ini dengan tidak berpuasa di siang bolong secara terang-terangan. Sungguh, mereka akan digantung dari ujung kaki mereka layaknya binatang yang digantung saat akan disembelih dimana posisi kakinya diatas dan kepala di bawah. Ditambah lagi, sudut-sudut mulut mereka juga akan terbelah dan mengucurkan darah. Kondisi tersebut benar-benar menjadi gambaran yang sadis dan mengenaskan.
Apakah setelah itu, mereka yang telah berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri, melanggar kehormatan bulan yang diberkahi ini, tidak mengindahkan kehormatan waktu dan hak Sang Khaliq dan menghancurkan rukun ke empat dari rukun Islam tanpa mau ambil peduli untuk apa mereka sebenarnya diciptakan tersebut, mau menjadikannya sebagai pelajaran berharga?

UCAPAN PARA ULAMA

Sementara para ulama menyatakan bahwa orang yang berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadlan tanpa ’udzur, maka dia telah melakukan salah satu dari perbuatan dosa besar (Kaba`ir).
Berikut beberapa ucapan para ulama:
1. Imam adz-Dzahabiy berkata, "Dosa besar ke-enam adalah orang yang berbuka pada akhir Ramadlan tanpa ’udzur.." (al-Kabâ`ir:49)
2. Syaikhul Islam, Ibn Taimiyyah berkata, "Bilamana orang yang muntah dianggap sebagai orang yang diterima ’udzurnya, maka apa yang dilakukannya adalah boleh hukumnya. Dengan begitu, dia termasuk kategori orang-orang sakit yang harus mengqadla puasa dan tidak termasuk pelaku dosa-dosa besar yang mereka itu berbuka (di bulan Ramadlan) tanpa ’udzur…" (Majmu’ Fatawa:XXV/225)
3. al-Quffâl berkata, "…Dan barangsiapa yang berbuka di bulan Ramadlan selain karena jima’ tanpa ’udzur, maka wajib baginya mengqadla dan menahan diri dari sisa harinya. Dalam hal ini, dia tidak membayar kaffarat (tebusan) namun dia dita’zir oleh penguasa (diberi sanksi yang pas menurut mashlahat yang dipandangnya). Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Daud azh-Zhahiriy…" (Hilyah al-Awliyâ`:III/198)
4. Syaikh Abu Bakar al-Jazâ`iriy sebagai yang dinukilnya dari Imam adz-Dzahabiy berkata, "…Sebagai yang sudah menjadi ketetapan bagi kaum Mukminin bahwa barangsiapa yang meningglkan puasa bulan Ramadlan bukan dikarenakan sakit atau ’udzur maka hal itu lebih jelek daripada pelaku zina dan penenggak khamar bahkan mereka meragukan keislamannya dan menganggapnya sebagai Zindiq atau penyeleweng…" (Risalah Ramadlan:66)

Seruan
Sesungguhnya orang-orang yang dengan terang-terangan berbuka (tidak berpuasa) di siang bolong pada bulan Ramadlan sementara kondisi mereka sangat sehat dan tidak ada ’udzur yang memberikan legitimasi pada mereka untuk tidak berpuasa adalah orang-orang yang sudah kehilangan rasa malu terhadap Allah dan rasa takut terhadap para hamba-Nya, otak-otak mereka telah dipenuhi oleh pembangkangan, hati mereka telah dipermainkan dan disentuh oleh syaithan dan gelimang dosa.
Mereka tidak menyadari bahwa dengan tidak berpuasa tersebut, berarti mereka telah menghancurkan salah satu dari rukun-rukun dien ini. Mereka adalah orang-orang yang fasiq, kurang iman dan rendah derajat. Kaum Muslimin akan memandang mereka dengan pandangan hina. Mereka termasuk para pelaku maksiat yang besar dan kelak di hari Kiamat, siksaan Allah Yang Maha Perkasa Lagi Kuasa telah menunggu mereka.
Semoga Allah menjauhkan kita dari hal itu, nau’ûdzu billâhi min dzâlik. Wallahu a’lam.


(Diambil dari buku ash-Syiyâm; Ahkâm Wa Adâb karya
Prof.Dr.Syaikh ’Abdullah ath-Thayyar, h.109-111)

lebih lanjut...

Rabu, September 17, 2008

Niat dalam Bekerja

nikah.com - Oleh : Nur Afif EN., SPd.

Bekerja adalah suatu kewajiban, dan yang lebih mengasyikkan bahwa bekerja adalah ibadah. Namun, jangan salah mengartikan “bekerja adalah ibadah” sama dengan bekerja tanpa menuntut gaji/upah, dikarenakan sudah mendapat pahala dari bekerja sebagai ibadah tadi. Pengertian ibadah disini adalah kita mengikuti sunnah Rasulullah Saw, beliau dalam salah satu sunnahnya bersabda: “Bekerjalah kamu seolah-olah kamu akan hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah kamu seakan-akan kamu akan mati esok!”


Dalam arti luas, yang dimaksudkan bekerja sebagai ibadah adalah, karena dengan bekerja inilah seseorang (laki-laki/kepala keluarga) dapat menggunakan pekerjaannya sebagai ma’isah (nafkah) bagi keluarganya, dapat bershodaqoh, dapat menolong saudara-saudaranya, dan dapat membiayai aktivitas dakwahnya (bagi aktivis dakwah). Satu hal lagi yang tidak kalah penting jika seseorang bekerja maka dia akan dapat menjaga diri dari meminta-minta.

Tidak semua orang menganggap bahwa pekerjaan yang menghasilkan uang/materi banyak adalah suatu kepuasan dan kenikmatan serta keberhasilan dalam hal keduniawian. Jelas anggapan ini salah, karena parameternya tidak hanya nilai materi yang didapat dari sebuah pekerjaan/usaha. Jika pekerjaan lebih banyak menyita waktu maka ada infestasi waktu yang hilang, baik untuk keluarga atau aktivitas lainnya (sosial dan dakwah). Belum lagi jikalau ditinjau dari kadar halal dan haramnya, serta di mana orang itu bekerja.

Dalam sebuah obrolan seorang kawan yang sudah bekerja di sebuah perusahaan jasa menyatakan, “Dahulu, semasa kita duduk di bangku kuliah kita pernah turun aksi memboikot produk apa saja yang berindikasi dari Amerika dan Yahudi tapi sekarang perusahaan yang ada di negeri kita dikuasai mereka yang notabene non-muslim, dan beberapa ikhwah ikut bekerja di sana (perusahaan non-muslim). Begitu juga maraknya pemurtadan di tanah air, lantas dari mana dana mereka dapatkan? Terus bagaimana jika kita bekerja kepada mereka?” Begitu kira-kira inti pernyataanya.

Sementara pada saat ramai-ramainya seruan boikot terhadap produk Amerika, Syaikh Yusuf Qordhowi mengatakan bahwa uang yang masuk ke perusahaan mereka akan digunakan untuk biaya memerangi Umat Islam, membantai saudara-saudara kita di Palestina, Cechnya, Afghanistan dan lain-lain.

Ada juga yang menyatakan kalau kita kerja kepada orang Nashrani pasti ada keringat kita yang digunakan untuk biaya operasional program pemurtadan mereka. Kawan yang lain menimpali tentang suasana kerja yang cenderung ikhtilat (bercampur laki-laki dan perempuan) saat di kantor. Ditambah ketika harus berjabat tangan dengan atasan yang lain jenis, tentu ini sangat membingungkan saudara-saudara kita ini.

Kemudian masalah ini menimbulkan keragu-raguan dalam hati mereka, apakah harus tetap bekerja di tempat itu. Terus bagaimana jika hendak memulai usaha sendiri sementara modal belum ada? Mau keluar dari pekerjaan ragu, karena cari kerja saja lagi susah, dan segudang permasalahan di tempat kerja menjadi dilematis, kata pepatah laksana makan buah cimalakama.

Permasalahanpun rame-rame dikonsultasikan kepada saudara-saudara yang tingkat tarbiyahnya lebih tinggi termasuk ustadz-ustadz. Berbagai jawaban diperoleh dari mereka, seperti:

Pertama, perbanyak istighfar, karena bagaimanapun keluarga masih membutuhkan ma’isah untuk kelangsungan hidup dan ibadah mereka. Tindakan ini dilakukan selama masa tunggu dengan pekerjaan yang lebih sesuai dengan harapannya.

Kedua, selalu minta petunjuk dan bimbingan kepada Allah SWT, karena Dia Mahamengetahui segala urusan yang sedang dihadapi hamba-hamba-Nya. Meminta petunjuk agar dipilihkan pekerjaan yang lebih cocok dan mendukung aktivitas dakwahnya dan meminta agar selama bekerja di tempat abu-abu (subhat) -yang penuh dengan fitnah- diberikan bimbingan agar dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil dan dijauhkan dari perbuatan ahli neraka.

Ketiga, luruskan niat, saat kita bekerja tujuan kita adalah untuk mendapatkan rezeki yang halal yang akan kita gunakan untuk ibadah (menafkahi diri sendiri, keluarga, shodaqoh, biaya dakwah, dll). Niat kita tidak untuk mengabdi kepada mereka (kafirin) apalagi menjadi budak mereka.

Niat, ya dengan niat inilah kita akan selalu terkontrol dalam beramal. Dengan niat ini pula kita akan digiring kembali kepada tujuan awal kita saat akan bekerja, dan dengan niat ini pula kita akan dimintai pertanggungjawaban dari amalan yang kita kerjakan.

Niat yang baik dan benar akan melahirkan motivasi internal tersendiri, yang kuat. Niat yang mulia bagi seorang aktivis dakwah akan melahirkan ghirah untuk merubah kondisi di mana dia ditempatkan, dia akan menjadi agent of change yang kelak diharapkan akan mewarnai lingkungan dimana dia beraktivitas.

Jadi, seorang muslim dalam segala aktivitasnya hendaklah selalu meniatkan dengan selurus-lurusnya niat, dan senantiasa memohon petunjuk kepada Allah Swt. Dalam hal pekerjaan maka carilah yang benar-banar bersih dari hal-hal maksiyat dan khurafat. Orang Yunani pun mengatakan “ora et labora”.Θ


lebih lanjut...

Selasa, September 16, 2008

Adillah kepada Istri

nikah.com - Sebagai seorang laki-laki, berbagai kesibukkan tentu bukan hal yang aneh. Dari mulai bekerja mencari nafkah, mencari ilmu, berorganisasi sampai berdakwah. Tentu saja, untuk melakukan semua aktifitas tersebut banyak waktu yang harus kita korbankan tidak peduli siang dan malam.

Bahkan tidak jarang, segala aktifitas maupun pekerjaan yang tidak bisa kita selesaikan di pagi dan siang hari, harus kita bawa ke rumah sehingga menyita waktu bercengkerama bersama keluarga. Meski demikian, betapa bahagianya para suami tatkala sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaannya, sang istri setia menemani dan menghantarkan secangkir teh ataupun kopi hangat.


Terkadang tak sadar kita, jarum jam sudah menunjuk angka 11 bahkan 12 malam, sementara anak-anak sudah terlelap. Teh ataupun kopi hangat pun entah sudah yang keberapa kali dihantarkan oleh istri kita yang tetap setia. Jika ia seorang istri yang antusias, ia akan memperlihatkan kepeduliannya atas pekerjaan kita dengan mengajukan berbagai pertanyaan.

Namun jika sebaliknya, artinya istri termasuk orang yang pendiam dan cenderung tidak ingin mengganggu konsentrasi bekerja suaminya, cukuplah ia diam dan terus setia menemani.

Tiba-tiba saja, kita akan merasa 'diusik' dengan teguran lembutnya, "sudah malam bang, istirahatlah, esok bisa dilanjutkan". Dengan mudahnya kata-kata seperti, "sebentar lagi dik" atau "tidurlah duluan, nanti abang menyusul", meluncur dari mulut kita sambil terus kembali khusyuk dengan pekerjaan. Jika seluruh pekerjaan usai malam itu, barulah kita pergi ke pembaringan dan beristirahat sampai pagi dan kembali segar.

Lalu, bagaimana dengan makhluk lembut yang semalaman menemani walau akhirnya pergi tidur lebih dulu? bisa jadi ia tidak sesegar kita, ataupun tidak sesenang kita yang mampu merampungkan segala urusan dan pekerjaan malam itu.

Bisa jadi, sebagai orang yang sangat aktif, setiap hari harus kita lalui dengan cara demikian. Jika benar, perlu kiranya menengok sejenak kepada istri kita yang kadang sudah terlelap di pinggir meja kerja. Perhatikan pula wajahnya saat menghantarkan kopi dan seruputan lainnya, atau senyumnya tatkala menyapa lembut menyarankan kita untuk beristirahat sejenak atau mungkin, menghirup harum tubuhnya saat mendampingi kita bekerja.

Tak sadar kita, bahwa kasihnya begitu ikhlas, kesabarannya begitu indah, dan kesetiaanya tiada sirna ditelan malam. Mungkin kita tak pernah menyadari, hantaran teh terakhirnya merupakan sinyal darinya untuk segera menghentikan aktifitas kita, teguran lembutnya sebagi tanda bahwa ia juga milik kita yang perlu kita perhatikan selain setumpuk pekerjaan kita dan bahwa harum tubuhnya adalah isyarat untuk istirahat sejenak, melepas kepenatan kerja seharian dengan melakukan 'aktifitas' lainnya.

Secara tidak sengaja kita telah berlaku tidak adil kepada istri. Untuk urusan berhubungan seksual, kita begitu egois. Sewaktu mereka berharap akan kehangatan malam, kita sibuk dengan berbagai urusan, tetapi giliran kita yang 'mau', memaksapun kita lakukan agar istri mau melayani meski ia tidak dalam kondisi baik.

Sehingga jangan heran, kalau suatu saat tidak akan ada lagi hantaran teh dan kopi hangat, ataupun teguran lembut agar kita beristirahat. Bahkan mereka (para istri) akan menganggap segala urusan dan aktifitas kita, belajar, pekerjaan kantor, organisasi, atau dakwah sekalipun sebagai 'musuh' utamanya karena telah merenggut keharmonisan dan kehangatan rumah tangga.

Inilah salah satu bentuk kesalahan komunikasi yang kita ciptakan. Kita sering gagal memahami model komunikasi istri yang terkadang hanya dengan bahasa tubuh dan sedikit kata-kata itu. Padahal, jika saja kita mau memahami, ada makna yang dalam saat istri telah menghantarkan minum saat kita bekerja dan memberikan sedikit teguran untuk beristirahat. Bahwa, ada 'agenda' lain yang harus pula dilaksanakan malam itu. Atau setidaknya, betapa inginnya para istri merasa dihormati dengan kita menyudahi pekerjaan kita sehingga ia merasa kasih sayang lembut yang tercurahkan malam itu tidak sia-sia.

Kita tahu malaikat akan melaknati para istri sampai pagi harinya karena tidak mau melayani keinginan suaminya. Tetapi juga semestinya, para suami berlaku adil saat ia membutuhkan kehadiran kita disampingnya untuk mendapatkan sepercik kehangatan suami.

Bolehlah kita berpesan agar istri tidak keluar rumah tatkala kita bepergian. Namun demikian, pulanglah tepat waktu dan tidak mampir ke tempat lain yang sekiranya itu bisa membuatnya merasa cemas dan khawatir sementara kita tidak memberitahunya lebih dulu.

Mungkin tidak masalah bagi istri bila kita menyisihkan sebagian uang untuk biaya sekolah lagi. Ada baiknya pula, sisihkan juga buatnya untuk bisa membeli buku-buku bacaan agar ia juga menjadi orang yang berpendidikan dan terpenuhi kebutuhannya akan ilmu. Sediakan pula waktu bersamanya untuk mengunjungi tempat-tempat pengkajian ilmu. Berilah taushiah kepadanya sebagaimana yang kita berikan kepada para orang lain.

Baik pula rasanya, sesekali mengajaknya makan bersama diluar seperti yang kita lakukan kepada teman-teman sejawat. Atau penuhi dahaga rekreasinya guna menghilangkan kejenuhan aktifitas rumah. Bayangkan betapa jenuhnya seorang istri yang melulu di rumah, berbeda dengan kita yang setiap hari keluar yang tentu lebih dinamis.

Perhatikan pula pakaiannya yang sudah lusuh dan itu-itu melulu atau juga sandalnya yang 'butut', belikanlah yang baru, buatlah hatinya berbunga meski ia tidak menuntutnya. Bandingkah dengan pakaian-pakaian kita yang selalu rapi dan necis.

Mulai sekarang, rapikan jadwal harian, mingguan ataupun bulanan. Penuhi janji dan tetaplah memberikan waktu-waktu khusus sebagai 'family day' yang tidak bisa diganggu gugat kegiatan yang lain. Sehingga dengan demikian, kita tetap bisa berlaku adil dan menjaga kehangatan rumah tangga dengan istri dan anak-anak. (bayu)

sumber : eramuslim.com

lebih lanjut...

Minggu, September 14, 2008

Tekat dan Nekat

nikah.com - slamanSesungguhnya doa tidak akan pernah lengkap dengan yang dinamakan usaha --doa dan ikhtiar--. Ora et Labora, sebuah upaya untuk mewujudkan cita-cita yang mungkin sudah lama dinantikan terwujudnya sebuah kenyataan. Atau mungkin baru diangan-angankan.

Upaya untuk mewujudkan sebuah keluarga yang sakinah, mawadah dan rohmah tidak cukup dengan doa. Doa, bisa saja disebut sebagai sebuah motivasi seorang hamba yang menjadi harapan kepada Sang Kholik. Tapi motivasi tinggal motivasi jika tidak pernah ada semangat untuk memanifestasikan ke sesuatu yang bersifat realita.

Seseorang tidak akan pernah sampai tujuan sebuah perjalanan yang berjarak seratus meter di depannya manakala langkah pertama tidak pernah dia lakukan. Kecuali dia adalah Superman, hanya dengan sekali terbang sampailah di tempat tujuan. Niat untuk sampai pada tujuan adalah sebuah tekat yang kuat. Namun, sebuah tekat yang tidak matang atau menunggu terlalu matang tidak akan pernah terwujud menjadi kenyataan. Harus ada upaya yang berkatagori pengambilan resiko.

Upaya yang diambil untuk sebuah, dua buah dan seterusnya resiko sama juga dengan upaya nekat. Tanpa nekat kita tidak akan pernah melangkah untuk yang pertama kalinya. Bukankah seratus meter jarak yang akan kita tempuh tidak akan pernah tercapai jika tidak ada langkah yang pertama.

Untuk urusan pernikahan juga sama, tekat yang sekuat baja, setinggi langit atau bahkan sedalam samudra tidak akan pernah terwujud manakala tidak pernah ada upaya untuk nekat. Tidak pernah ada orang yang mengatakan siap untuk melewati jembatan kehidupan yang bernama PERNIKAHAN. Semua mengatakan belum mapan. Ketika ditanya kesiapan nikah, sebagian menjawab, “saya kan masih sekolah/kuliah”. Ketika ditanya lagi, dijawab dengan, “saya kan belum punya pekerjaan”. Ketika diajukan dengan pertanyaan yang sama, dijawab pula, “pekerjaan saya belum tetap”. Ditanya lagi, dijawab, “saya belum punya rumah sendiri”. Dan segudang alasan untuk mengekspresikan ketidaksiapannya.
Nekat, adalah kunci sukses untuk menyegerakan pernikahan. Dan perlu diyakini, bahwa tidak ada satupun orang yang sudah siap untuk menuju jenjang pernikahan.

Wallahu a’lam bishshowab.
lebih lanjut...

Rabu, September 10, 2008

Doa

nikah.com - Doa tidak hanya mempunyai hikmah dalam menjalin hubungan antara manusia seorang hamba dengan Allah SWT, akan tetapi juga mempunyai hikmah menjalin hubungan antara sesama manusia; tidak hanya yang telah dikenal dan hidup dalam waktu yang bersamaan, akan tetapi doa merupakan mata rantai yang menghubungkan setiap manusia mukmin sepanjang masa.

Setiap muslim yang menjalankan Shalat, dalam membaca doa Tasyahud selalu menyebut : Assalaamu 'alaynaa wa 'alaa 'ibaadi-l Laahi-sh shaalihiin. Arti yang populer : mengirim salam kepada semua hamba Allah yang shaleh, yang baik, suatu pengharapan untuk memperoleh salam atau kesejahteraan secara umum, baik bagi mereka yang telah meninggalkan dunia yang fana ini, atau mereka yang masih hidup dengan tidak memandang suku maupun bangsa.

Shalawat yang berarti juga doa, yang sangat utama adalah Shalawat Ibrahimiyah, pelajaran sejarah yang sangat tepat dimana selalu dikenang jasa-jasa Nabi Ibrahim a.s. dengan keturunannya, Nabi-nabi Besar pada zamannya, sebagai Penegak Agama Tauhid.

Shalawat kepada Rasulullah SAW yang selalu diucapkan sewaktu nama beliau disebut merupakan jalinan yang sangat erat antara Rasul dengan segenap umat pengikutnya.

Selanjutnya tradisi mohon doa dan saling berdoa telah berlaku semenjak Rasulullah SAW; bukan hanya Rasul yang medoakan seseorang, bahkan Rasulullah pun pernah minta didoakan; pada waktu shahabat Umar r.a. akan berangkat melaksanakan Ibadah Haji Rasulullah SAW berpesan : "Jangan melupakan kami dalam doamu, wahai Saudaraku".

Shalat Janazah juga merupakan doa sebagai pengantar bagi seseorang yang akan menghadap Allah SWT; demikian pula doa yang diserukan oleh seseorang yang sedang ziarah qubur, sedikitnya dengan menucapkan salam.

Bukan hanya manusia yang menyerukan doa, bahkan para Malaikat pun berdoa, berdoa untuk manusia, tersebut dalam Firman Allah Qur-an Surat Al-Mukmin Ayat 7-8 dan 9. "(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan Malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampun bagi orang orang yang beriman (seraya mengucapkan) : Ya, Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang orang yang bertaubat dan mengikuti jalan (agama) Engkau, dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam Sorga 'Adn yang telah engkau janjikan kepada mereka dan orang orang Shaleh diantara bapak-bapak mereka dan isteri-isteri mereka dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Barangsiapa yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu (kiamat), maka sesungguhnya Engkau telah memberi rahmat kepoadanya, dan itulah kemenangan yang besar.

Demikianlah eratnya hubungan diantara makhluk-makhluk Allah, antara manusia dan malaikat, meskipun keduanya berada di tempat yang berlainan; manusia di alam nyata/dunia adapun Malaikat di alam ghaib.
lebih lanjut...
sekolahbisnis.com