--- AHLAN WA SAHLAN, SELAMAT DATANG DI NIKAH.COM, KAMI HADIR SEBAGAI SAJIAN UNTUKMU YANG AKAN MENIKAH DAN TELAH MENIKAH, SERBA-SERBI DALAM KELUARGA DAN ANAK-ANAK ---
Tampilkan postingan dengan label Petuah Nikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petuah Nikah. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 15, 2010

Hak-hak Istri Terhadap Suami

nikah.com; Alloh SWT berfiman sebagaimana tersebut dalam Surat An-Nisaa; Ayat 19: "WA‘AASYIRUUHUNNA BILMA’RUUFI" Artinya: "Dan pergaulilah mereka (istri-strimu) dengan baik. " Yang dimaksud adalah pergaulan secara adil. Baik dalam pembagian giliran (kalau kebetulan polygami), pemberian belanja dan berperangai baik dalam ucapan dan tindakan. Dalam Surat Al-Baqoroh ayat 228 diterangkan, Artinya: "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai suatu tingkatan kelebihan daripada istrinya."

Diriwayatkan dari Nabi Saw bahwa, saat beliau menunaikan haji wada’ beliau bersabda: Setelah beliau mamuji Alloh Swt dan menyanjung-Nya serta memberi petuah pada kaum muslimin yang hadir, Beliau melanjutkan sabdanya: "Ingatlah, berikanlah wasiat kepada para wanita secara baik, karena mereka hanyalah sebagai tawanan di hadapanmu. Sesungguhnya kalian tidak memiliki apapun dari mereka kecuali kebaikan, kecuali jika mereka itu (wanita) datang dengan mambawa perbuatan buruk yang jelas. Kalau wanita melakukan perbuatan tercela, maka berpisahlah sebatas tempat tidur dan pukullah dengan pukulan yang tidak membahayakan. Kalau istimu mentaati maka kamu jangan mencari alasan lain untuk mengusiknya. Ingatlah sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istri dirimu!!!

Diantara hak kalian atas istri-istrimu adalah melarang istrimu menggelar tikarmu terhadap orang yang tidak kamu sukai dan tidak mengijinkan istri-istrimu memasukkan orang yang tidak kamu sukai. Ingatlah, bahwa diantara hak-hak istrimu adalah memberi pakaian yang baik kepadanya dan demikian pula dalam hal makanannya."
lebih lanjut...

Sabtu, Oktober 03, 2009

Tips Bertengkar yang Islami

nikah.com; Bismillah walhamdulillah walaa hawla walaa Quwwata Illaa billah. Shahabat Islam yang berbahagia, kita bersyukur kepada Allah bahwa hingga hari ini Allah masih mengulur waktu buat kita. Berbicara soal vonis, sebenarnya setiap kita telah dijatuhi hukuman mati (QS.21:35), hanya jadwal eksekusi yang berbeda-beda, ada yang minggu lalu, kemarin, tadi pagi, dan saya, Anda? Entah kapan, yang jelas waktu yang tersisa, harus kita maksimalkan untuk berbuat baik. Diantara kebaikan itu adalah: membangun sinergi yang baik antar dua kekasih yang diikat erat janji suci, suami dengan isteri.

Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya!” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas saya dengan Ummu Naila sering menikmati saat-saat bertengkar, sebagaimana lebih menikmati lagi saat-saat tidak bertengkar :)


Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Baiklah, hari ini saya ingin paparkan resep keluarga kami dalam melangsungkan sebuah pertengkaran, alhamdulillah telah saya jalani selama 13 tahun, dan berhasil membangun keadaan yang senantiasa lebih asyik daripada sebelum terjadi pertengkaran.

Tulisan ini murni Non Politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa menghapusnya :)

Ketika saya dan si pencuri [hati saya] — eh enggak koq dia tidak curi hati saya, malah saya kasikan dengan ikhlas dibarter hatinya yg tulus – awal bertemu, setelah saya tanya apakah ia bersedia berbagi masa depan dengan saya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap, kami mulai membicarakan seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala kita bertengkar, dari beberapa perbincangan via tulisan plus waktu yang mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah.

Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya!

Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah,makin energik …”

Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu …..”

Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :) maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa.

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta
yang telah sedemikian mahal dibangunnya. (Sampai hari ini, biaya pernikahan saya masih harus terus saya cicil, sayangkan kalau di delete begitu saja…:)

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dengan seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah, maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dengan kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups... saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah …. OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga!

Saya dengan isteri saya terikat masa 13 tahun, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir dua kali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40). Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi
kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”. Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari maafnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak!

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tuanya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :

Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!
Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda ….. terus saya ini apa ?”

Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran!” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat!

Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa ‘ibaadil-ahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba-hambamu yg sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya. OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ….. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas …. ??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … :)

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling memaafkan

(Hikmah yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi sebuah film). Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.

Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”.

Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.

lebih lanjut...

Minggu, April 19, 2009

Bermesraan Ala Rasulullah

nikah.com, Bermesraan, itulah yang membuat hubungan suami-istri terasa indah dan nikmat. Caranya?

Dalam berkomunikasi, ada dua jenis lambang yang bisa dipergunakan, yaitu lambang verbal dan lambang non verbal. Menurut penelitian Profesor Birdwhistell, maka nilai efektifitas lambang verbal dibanding non verbal adalah 35:65. Jadi, justru lambang non verbal yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

Bermesraan, adalah upaya suami istri untuk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk verbal. Sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya, adalah termasuk lambang non verbal ketika suami berkomunikasi dengan istrinya. Komunikasi verbal semata belumlah efektif jika belum disertai oleh komunikasi non verbal, dalam bentuk kemesraan tersebut.

Rasulullah saw pun merasakan pentingnya bermesraan dengan istri, sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghias hari-hari dalam keluarganya, yang tecermin seperti dalam hadis-hadis berikut:

1. Tidur dalam satu selimut bersama istri
Dari Atha' bin Yasar: "Sesungguhnya Rasulullah saw dan 'Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan 'Aisyah, tiba-tiba 'Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, 'Mengapa engkau bangkit?' Jawabnya, 'Karena saya haidh, wahai Rasulullah.' Sabdanya, 'Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.' Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau." (HR Sa'id bin Manshur)

2. Memberi wangi-wangian pada auratnya
'Aisyah berkata, "Sesungguhnya Nabi saw apabila meminyaki badannya, beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya." (HR Ibnu Majah)

3. Mandi bersama istri
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Aku biasa mandi bersama dengan Nabi saw dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana)." (HR 'Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)

4. Disisir istri
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw, saat itu saya sedang haidh." (HR Ahmad)

5. Meminta istri meminyaki badannya
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Saya meminyaki badan Rasulullah saw pada hari raya 'Idul Adh-ha setelah beliau melakukan jumrah 'aqabah." (HR Ibnu 'Asakir)

6. Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari 'Aisyah ra, dia berkata, "Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalu saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya." (HR 'Abdurrazaq dan Sa'id bin Manshur)

7. Membelai istri
"Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiri dan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya." (HR Ahmad)

8. Mencium istri
Dari 'Aisyah ra, bahwa Nabi saw biasa mencium istrinya setelah wudhu', kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi wudhu'nya." (HR 'Abdurrazaq)

Dari Hafshah, putri 'Umar ra, "Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mencium istrinya sekalipun sedang puasa." (HR Ahmad)

9. Tiduran di pangkuan istri
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Nabi saw biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al-Qur'an." (HR 'Abdurrazaq)

10. Memanggil dengan kata-kata mesra
Rasulullah saw biasa memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti 'Aisy, dan Humaira (pipi merah delima).

11. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi saw biasa memijit hidung 'Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, "Wahai 'Uwaisy, bacalah do'a: 'Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan." (HR Ibnu Sunni)

12. Membersihkan tetesan darah haidh istri
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Aku pernah tidur bersama Rasulullah saw di atas satu tikar ketika aku sedang haidh. Bila darahku menetes ke tikar itu, beliau mencucinya di bagian yang terkena tetesan darah dan beliau tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau shalat di tempat itu pula, lalu beliau berbaring kembali di sisiku. Bila darahku menetes lagi ke tikar itu, beliau mencuci di bagian yang terkena darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudia beliau pun shalat di atas tikar itu." (HR Nasa'i)

13. Bermesraan walau istri haidh
Dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Saya biasa mandi bersama Rasulullah saw dengan satu bejana, padahal kami sama-sama dalam keadaan junub. Aku biasa menyisir rambut Rasulullah ketika beliau menjalani i'tikaf di masjid dan saya sedang haidh. Beliau biasa menyuruh saya menggunakan kain ketika saya sedang haidh, lalu beliau bermesraan dengan saya." (HR 'Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)

14. Memberikan hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, "Ketika Nabi saw menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, 'Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu."

Ia (Ummu Kultsum) berkata, "Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah saw, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah." (HR Ahmad)

15. Segera menemui istri jika tergoda
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, "Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan....Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu." (HR Tirmidzi)

Begitu indahnya kemesraan Rasulullah saw kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami istri. Nah, silakan mencoba.• Ira Istadi

sumber: hidayatullah.com

lebih lanjut...

Rabu, September 24, 2008

Larangan Menikah Tanpa Wali (1)

nikah.com,
Mukaddimah

Salah satu fenomena yang amat mengkhawatirkan dewasa ini adalah maraknya pernikahan ‘jalan pintas’ dimana seorang wanita manakala tidak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya atau merasa bahwa orangtuanya tidak akan merestuinya; maka dia lebih memilih untuk menikah tanpa walinya tersebut dan berpindah tangan kepada para penghulu bahkan kepada orang ‘yang diangkat’ nya sendiri sebagai walinya, seperti orangtua angkat, kenalannya dan sebagainya.

Ini tentunya sebuah masalah pelik yang perlu dicarikan akar permasalahan dan solusinya secara tuntas, sehingga tidak berlarut-larut dan menjadi suatu trendi sehingga norma-norma agama diabaikan sedikit demi sedikit bahkan dilabrak.

Tidak luput pula dalam hal ini, tayangan-tayangan di berbagai media televisi yang seakan mengamini tindakan tersebut dan dengan tanpa kritikan dan sorotan menyuguhkan adegan-adegan seperti itu di hadapan jutaan pemirsa yang notabenenya adalah kaum Muslimin.

Hal ini menunjukkan betapa umat membutuhkan pembelajaran yang konfrehensif dan serius mengenai wawasan tentang pernikahan yang sesuai dengan tuntunan ajaran agamanya mengingat tidak sedikit tradisi di sebagian daerah (untuk tidak mengatakan seluruhnya) yang bertolak belakang dengan ajaran agama dan mentolerir pernikahan tanpa wali tersebut bilamana dalam kondisi tertentu seperti tradisi ‘kawin lari’. Dengan melakukan tindakan ini dengan cara misalnya, menyelipkan sejumlah uang di bawah tempat tidur si wanita, seakan kedua mempelai yang telah melakukan hubungan tidak shah tersebut -karena tanpa wali yang shah- menganggap sudah tidak ada masalah lagi dengan pernikahannya sekembalinya dari melakukan pernikahan ala tersebut.

Sebagai dimaklumi, bahwa tradisi tidak dianggap berlaku bilamana bertabrakan dengan syari’at Islam.

Mengingat demikian urgen dan maraknya masalah ini, sekalipun sudah menjadi polemik di kalangan ulama fiqih terdahulu, maka kami memandang perlu mengangkatnya lagi dalam koridor kajian hadits, semoga saja bermanfa’at bagi kita semua dan yang telah terlanjur melakukannya menjadi tersadar, untuk selanjutnya kembali ke jalan yang benar.

bersambung...
lebih lanjut...

Senin, September 22, 2008

Menikah dengan Motor

nikah.com, "Ikhwan-nya menikah ama motor sich, makanya gak nikah-nikah. Bikin kita gelisah dalam penantian." Begitulah selentingan yang terdengar di kalangan akhwat di daerahku. Dan kebetulan selentingan itu kedengar juga di telingaku, maka dengan berlagak sebagai tim pencari fakta, kucoba mengkorek beberapa ikhwan yang secara nggak langsung "tertembak" dengan ungkapan tersebut.


*---*


"Coba pikir dech akh, kayaknya gak adil mereka menyalahkan kita yang menunda pernikahan karena harus melunasi cicilan motor. Motor ini kan sarana dakwah kala kita dituntut untuk mobilitas tinggi. Kalau gak ada motor kan susah kemana-mana, kegiatan terhambat, ongkos transportasi melunjak dan lain-lain. Sekarang kan antum bisa lihat dengan ane punya motor kan banyak aktifitas dakwah yang kepegang, bener kan akh." Itu kata ikhwan yang memang menjadikan kos-kosanya sebagai rumah singgah kala butuh mandi dan ganti baju saja. Selebihnya selalu di luar rumah untuk urusan dakwah, dari TPA, RISMA, Kepanduan, dan seabrek kegiatan lainnya.


"Dan lagi akh, ada gak akhwat yang mau nikah dengan kita ketika kita punya banyak utang, cicilan motor salah satunya. Kayaknya ane belum yakin ada yang mau tuch. Trus kalaupun ada kan beban mental bagi kita, menikah kok biar ada yang bantuin bayar utang. Kayaknya muka kita mo ditaruh dimana, gitu?" Timpal ikhwan yang lain gak mau kalah.


"Belum lagi untuk biaya walimah dan mahar. Ane gak yakin mereka dan keluarga mereka mau kalo kita ngadain walimahnya biasa saja. Apa kata tetangga katanya. Antum kan tahu, akhwat itu kan kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. So pasti keluarganya ingin walimahnya minimal normal seperti masyarakat sekitarnya. Nah kalau kita dalam posisi nyicil motor kan tentunya gak punya cukup dana untuk itu." Tambah ikhwan yang lainnya.


"Truzz lagi akh, kalo ada akhwat dan keluarganya mau acara walimah dan maharnya biasa saja. Ada gak akhwat yang mau hidup S4 (Sungguh Sangat Susah Sekali). Tinggal di kos-kosan ukuran 2,5 x 3 m, makan tiap hari ama ikan asin, beli baju baru dua tahun sekali, apalagi ngomongin masalah rihlah. Itu belum kalo ada beban anak. Dan kayaknya gak tega dech nikahin mereka untuk kita sengsarain." Duh perasaan sekali nih ikhwan.


*---*


Nah, setelah fakta-fakta terkumpul dari mereka yang menjadi "korban" selentingan akhwat di atas maka agaknya saya perlu membuat laporan sebagai berikut:


1.Ikhwan mengkredit motor karena perlu mobilitas dakwah yang tinggi.


2.Mereka bukannya gak pengin nikah (bahkan beberapa sebenarnya udah wajib nikah), tapi mereka gak PeDe dengan kualitas akhwat yang sanggup menerima segala keterbatasan mereka.


3.Adanya egoisme ikhwan yang tidak mau melibatkan istrinya nantinya dalam permasalahan keuangan keluarga, dengan alasan dia adalah kepala rumah tangga, ikhwan lagi. Dimana nafkah adalah tanggung jawabnya.


4.Adanya perasaan minder di kalangan ikhwan sebagai kalangan bawah untuk dapat akhwat yang rata-rata dari keluarga menengah keatas.


5.Adanya perasaan bahwa rizki itu matematis, sehingga nafkah keluarga adalah matematis, jadinya menikah adalah matematis. Di sini mungkin kita renungkan atas kurangnya iman para ikhwan akan janji Allah yang akam memampukan mereka jika mereka tidak mampu.


Setelah melihat laporan diatas maka ada beberapa saran dan renungan kepada semua elemen dakwah untuk mengatasi persoalan ini.


Kepada Ukhti, janganlah hanya menghakimi para ikhwan dengan tidak berani, pengecut, gak punya nyali. Tapi cobalah mengerti keadaan mereka (khususnya yang membuat mereka tidak pede untuk menikah), turunkanlah grade anda tentang calon suami, baik status pendidikan, status ekonomi, ataupun yang lainnya. Jangan lupa kondisikan keluarga besar anti dengan fakta-fakta tersebut.


Kepada para Akhi, pertebalah keimananmu, tingkatkan ruhiyahmu. Cobalah untuk menghilangkan logika matematis untuk masalah nikah ini. Pede-lah dengan keadaanmu saat ini, dan komunikasikan keadaanmu saat ta’aruf. Yakinkanlah hatimu kalau Allah akan membantumu.


Kepada para Murobbi, bijaklah menyikapi problematika ini. Bantulah mad’u anda menghadapi permasalahan pribadinya tersebut. Jadilah ayah bagi mereka, jangan hanya jadi guru yang hanya transfer ilmu, jangan pula hanya jadi atasan yang meminta mereka untuk sami’na wa atho’na atas tugas yang diberikan.


Agaknya tugas saya sebagai tim pencari fakta, mungkin banyak kekurangan atas laporan saya. Jika ada data-data baru yang antum miliki, silahkan bisa dikirimkan pada alamat yang ada agar laporan ini menjadi lebih sempurna. Wallahu’alam bish shiwab.

sumber : unknown

lebih lanjut...

Selasa, September 16, 2008

Adillah kepada Istri

nikah.com - Sebagai seorang laki-laki, berbagai kesibukkan tentu bukan hal yang aneh. Dari mulai bekerja mencari nafkah, mencari ilmu, berorganisasi sampai berdakwah. Tentu saja, untuk melakukan semua aktifitas tersebut banyak waktu yang harus kita korbankan tidak peduli siang dan malam.

Bahkan tidak jarang, segala aktifitas maupun pekerjaan yang tidak bisa kita selesaikan di pagi dan siang hari, harus kita bawa ke rumah sehingga menyita waktu bercengkerama bersama keluarga. Meski demikian, betapa bahagianya para suami tatkala sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaannya, sang istri setia menemani dan menghantarkan secangkir teh ataupun kopi hangat.


Terkadang tak sadar kita, jarum jam sudah menunjuk angka 11 bahkan 12 malam, sementara anak-anak sudah terlelap. Teh ataupun kopi hangat pun entah sudah yang keberapa kali dihantarkan oleh istri kita yang tetap setia. Jika ia seorang istri yang antusias, ia akan memperlihatkan kepeduliannya atas pekerjaan kita dengan mengajukan berbagai pertanyaan.

Namun jika sebaliknya, artinya istri termasuk orang yang pendiam dan cenderung tidak ingin mengganggu konsentrasi bekerja suaminya, cukuplah ia diam dan terus setia menemani.

Tiba-tiba saja, kita akan merasa 'diusik' dengan teguran lembutnya, "sudah malam bang, istirahatlah, esok bisa dilanjutkan". Dengan mudahnya kata-kata seperti, "sebentar lagi dik" atau "tidurlah duluan, nanti abang menyusul", meluncur dari mulut kita sambil terus kembali khusyuk dengan pekerjaan. Jika seluruh pekerjaan usai malam itu, barulah kita pergi ke pembaringan dan beristirahat sampai pagi dan kembali segar.

Lalu, bagaimana dengan makhluk lembut yang semalaman menemani walau akhirnya pergi tidur lebih dulu? bisa jadi ia tidak sesegar kita, ataupun tidak sesenang kita yang mampu merampungkan segala urusan dan pekerjaan malam itu.

Bisa jadi, sebagai orang yang sangat aktif, setiap hari harus kita lalui dengan cara demikian. Jika benar, perlu kiranya menengok sejenak kepada istri kita yang kadang sudah terlelap di pinggir meja kerja. Perhatikan pula wajahnya saat menghantarkan kopi dan seruputan lainnya, atau senyumnya tatkala menyapa lembut menyarankan kita untuk beristirahat sejenak atau mungkin, menghirup harum tubuhnya saat mendampingi kita bekerja.

Tak sadar kita, bahwa kasihnya begitu ikhlas, kesabarannya begitu indah, dan kesetiaanya tiada sirna ditelan malam. Mungkin kita tak pernah menyadari, hantaran teh terakhirnya merupakan sinyal darinya untuk segera menghentikan aktifitas kita, teguran lembutnya sebagi tanda bahwa ia juga milik kita yang perlu kita perhatikan selain setumpuk pekerjaan kita dan bahwa harum tubuhnya adalah isyarat untuk istirahat sejenak, melepas kepenatan kerja seharian dengan melakukan 'aktifitas' lainnya.

Secara tidak sengaja kita telah berlaku tidak adil kepada istri. Untuk urusan berhubungan seksual, kita begitu egois. Sewaktu mereka berharap akan kehangatan malam, kita sibuk dengan berbagai urusan, tetapi giliran kita yang 'mau', memaksapun kita lakukan agar istri mau melayani meski ia tidak dalam kondisi baik.

Sehingga jangan heran, kalau suatu saat tidak akan ada lagi hantaran teh dan kopi hangat, ataupun teguran lembut agar kita beristirahat. Bahkan mereka (para istri) akan menganggap segala urusan dan aktifitas kita, belajar, pekerjaan kantor, organisasi, atau dakwah sekalipun sebagai 'musuh' utamanya karena telah merenggut keharmonisan dan kehangatan rumah tangga.

Inilah salah satu bentuk kesalahan komunikasi yang kita ciptakan. Kita sering gagal memahami model komunikasi istri yang terkadang hanya dengan bahasa tubuh dan sedikit kata-kata itu. Padahal, jika saja kita mau memahami, ada makna yang dalam saat istri telah menghantarkan minum saat kita bekerja dan memberikan sedikit teguran untuk beristirahat. Bahwa, ada 'agenda' lain yang harus pula dilaksanakan malam itu. Atau setidaknya, betapa inginnya para istri merasa dihormati dengan kita menyudahi pekerjaan kita sehingga ia merasa kasih sayang lembut yang tercurahkan malam itu tidak sia-sia.

Kita tahu malaikat akan melaknati para istri sampai pagi harinya karena tidak mau melayani keinginan suaminya. Tetapi juga semestinya, para suami berlaku adil saat ia membutuhkan kehadiran kita disampingnya untuk mendapatkan sepercik kehangatan suami.

Bolehlah kita berpesan agar istri tidak keluar rumah tatkala kita bepergian. Namun demikian, pulanglah tepat waktu dan tidak mampir ke tempat lain yang sekiranya itu bisa membuatnya merasa cemas dan khawatir sementara kita tidak memberitahunya lebih dulu.

Mungkin tidak masalah bagi istri bila kita menyisihkan sebagian uang untuk biaya sekolah lagi. Ada baiknya pula, sisihkan juga buatnya untuk bisa membeli buku-buku bacaan agar ia juga menjadi orang yang berpendidikan dan terpenuhi kebutuhannya akan ilmu. Sediakan pula waktu bersamanya untuk mengunjungi tempat-tempat pengkajian ilmu. Berilah taushiah kepadanya sebagaimana yang kita berikan kepada para orang lain.

Baik pula rasanya, sesekali mengajaknya makan bersama diluar seperti yang kita lakukan kepada teman-teman sejawat. Atau penuhi dahaga rekreasinya guna menghilangkan kejenuhan aktifitas rumah. Bayangkan betapa jenuhnya seorang istri yang melulu di rumah, berbeda dengan kita yang setiap hari keluar yang tentu lebih dinamis.

Perhatikan pula pakaiannya yang sudah lusuh dan itu-itu melulu atau juga sandalnya yang 'butut', belikanlah yang baru, buatlah hatinya berbunga meski ia tidak menuntutnya. Bandingkah dengan pakaian-pakaian kita yang selalu rapi dan necis.

Mulai sekarang, rapikan jadwal harian, mingguan ataupun bulanan. Penuhi janji dan tetaplah memberikan waktu-waktu khusus sebagai 'family day' yang tidak bisa diganggu gugat kegiatan yang lain. Sehingga dengan demikian, kita tetap bisa berlaku adil dan menjaga kehangatan rumah tangga dengan istri dan anak-anak. (bayu)

sumber : eramuslim.com

lebih lanjut...
sekolahbisnis.com